Produktif di Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan penuh kasih sayang Allah, bulan penuh ampunan Allah, dan bulan pendaftaran bagi hamba-hamba-Nya yang ingin dibebaskan dari api neraka. Hal penting yang harus dijadikan pedoman adalah bagaimana memanfaatkan kedatangan bulan suci Ramadhan.
Jangan sampai karena berpuasa di bulan Ramadhan, amalan ibadah kita yang selama ini sudah dilakukan menjadi terganggu, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnat. Misalnya, karena berbuka puasa, kita jadi lalai melakukan shalat Maghrib berjamaah. Karena lebih mengedepakan sahur, dan setelah sahur kita langsung tidur, kita malah melalaikan kewajiban melakukan shalat Subuh.
Titik tekan pemaknaan puasa Ramadhan sebenarnya tak hanya pada sisi individual, tapi justru pada makna sosialnya. Karena itu, anjuran bagi yang berpuasa Ramadhan adalah melakukan kebajikan yang dibutuhkan masyarakat.
Saat ini, adalah sesuatu yang tak terhindarkan jika kita hidup dalam masyarakat yang majemuk dengan berbagai keyakinan agama dan aliran. Untuk itu, berbuat kebajikan atau amal sosial antara umat beragama tampaknya menjadi hal yang perlu diperluas dan diintensifkan.

Puasa Ramadhan adalah arena pematangan emosi, intelektual, dan spiritual. Efek puasa mendorong kita untuk lebih matang berkomunikasi secara sosial. Puasa seharusnya dapat memotivasi kita untuk melakukan kesalehan sosial, berperilaku produktif, berlatih sabar, dan memberi maaf.
Dalam konteks kemajemukan Indonesia, negeri ini dikenal sebagai negara yang sukses dalam menerapkan toleransi antar dan interen umat beragama sehingga menjadi obsesi banyak negara untuk belajar dari Indonesia. Untuk itu, obsesi ke depan adalah bagaimana menjadikan kekayaan kemajemukan ini menjadi energi kebajikan atau amal sosial antara umat beragama sehingga bisa membangun bangsa dan negara yang masih compang-camping ini.
Ada beberapa alasan. Pertama, kondisi negara masih terpuruk dan terbelit krisis ekonomi. Pemecahannya memerlukan kerja sama dan koordinasi antara sesama anak bangsa serta antar pemeluk umat beragama.
Kedua, ada potensi yang bisa digerakkan antar-umat beragama. Misalnya, memberantas kemiskinan dan pengangguran. Melakukan kebajikan sosial dalam masyarakat yang majemuk justru mendapat penekanan dalam ajaran Islam.
Untuk membangun kebajikan sosial, Islam mendesak umatnya agar tidak membesar-besarkan perbedaan. Justru, umat Islam disuruh untuk mencari kesamaan visi dan misi dalam menggerakkan kebajikan sosial ini. Al-Quran menegaskan, setiap amal saleh manusia akan mendapat balasan dari Allah. Mengenai keyakinan kepercayaannya, Allah sendiri yang akan memutuskan.
Islam menjunjung toleransi beragama, dan justru menghormati dan menghargai adanya perbedaan karena latar belakang sosiologis, antropologis, maupun agama. Bahkan, di dalam al-Quran di mana Allah mewajibkan puasa Ramadan sebagai puasa wajib, juga disebutkan tentang toleransi beragama, yaitu bahwa puasa juga telah dilakukan kaum atau umat beragama lain sebelum Islam.
Ramadhan juga mengajarkan kita bagaimana melakukan pengendalian diri, pelurusan serta penjernihan terhadap ruhani kita. Semua itu dapat dengan mudah dicapai bila kita mampu mengendalikan nafsu, karena salah satu elemen kamanusiaan ini memang diciptakan oleh Allah dengan kehendak tak terbatas.
Nafsu selalu cenderung kepada hal-hal negatif (an-nafsul ammaarah bis suu’) dan untuk menundukkannya kita harus bisa memberikan jalan dan ruang yang jelas agar nafsu dapat dimafaatkan dengan benar. Inilah sebenarnya barometer paling nyata dari Allah kepada hamba-Nya untuk dapat mengukur kehambaannya.
Jika seorang hamba mampu mengendalikan nafsu dan memanfaatkannya dengan baik, maka nafsu (an-nafsul lawwamah) akan sangat membantu membangunkan rangsangan di dalam diri kita untuk selalu menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah, atau malah meletakkan kehendak Allah di atas kehendak kita. InsyaAllah.
Maulana Muhammad Zakariyah Al Kandhalawi, dalam Kitabnya, Fadhail Amal, menjelaskan agar kita tidak menyia-nyiakan waktu ketika berada di bulan Ramadhan, bahkan kita harus lebih produktif dalam ibadah.
Islam menganggap perilaku produktif sebagai amal saleh manusia, sebagai khalifah di muka bumi. Kesalehan bukan fungsi positif dari ketidakproduktifan ekonomi. Semakin saleh seseorang seharusnya ia menjadi semakin produktif (QS. an-Nahl: 76). Intinya, puasa semestinya mendorong umat Islam lebih produktif.

Sumber: http://www.majalahgontor.net/index.php?option=com_content&view=article&id=462:produktif-di-bulan-ramadhan&catid=70:sikap&Itemid=132

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s