Calon Presiden Partai Golkar

SEBERAPA jauh model konvensi Partai Golkar membantu partai ini mencari calon presiden yang berpeluang terbesar untuk menang dalam pemilihan presiden tahun 2004? Sebuah model seleksi, ataupun sebuah mekanisme perekrutan calon presiden, dipilih bukan semata karena ia berbeda dengan metode konvensional. Dalam politik praktis, sebuah model seleksi dipilih karena ia meningkatkan peluang partai yang bersangkutan untuk memenangkan pertarungan politik. Memang, konvensi sudah membuat Partai Golkar tampil beda dan segar. Umumnya, partai besar lain hanya mencari model perekrutan calon presiden yang konvensional dan mudah saja. PDIP mencalonkan ketua umumnya sendiri, Megawati Soekarnoputri. PAN juga melakukan hal yang sama, mencalonkan ketua umumnya, Amien Rais. Bahkan, partai baru seperti Partai PIB, juga memilih lakon yang sama, mencalonkan ketua umumnya, Dr Sjahrir.
Dari sisi ini, Partai Golkar memang membuat terobosan. Calon presiden tidak dibatasi hanya kepada ketua umum partai. Maka, muncul aneka calon yang tidak biasa. Ada kalangan pengusaha yang ikut bursa, seperti Surya Paloh dan Aburizal Bakrie. Ada pula intelektual yang semakin santer disebut, seperti Nurcholish Madjid. Tak ketinggalan berbagai purnawirawan militer juga masuk persaingan: Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto, dan Agum Gumelar.
Namun, disayangkan, model konvensi yang dikembangkan Partai Golkar terasa tanggung. Model ini kurang maksimal memanfaatkan peran serta populasi luas untuk ikut memilih calon presiden Partai Golkar. Akibatnya, sungguhpun konvensi itu terasa segar, namun tetap tidak mampu mencerminkan kecenderungan populasi dalam pemilihan presiden tahun 2004 kelak.

Elite partai
MODEL konvensi Partai Golkar mengulangi kesalahan konvensi partai politik di Amerika Serikat di tahun 1800-an, ketika model konvensi untuk pertama kali dilahirkan. Partai Golkar hanya membatasi diri, atau memberikan otoritas pemilihan kepada elite partai, yang jumlahnya segelintir. Debat konvensi Partai Golkar lebih disibukkan dengan isu apakah konvensi dilaksanakan setelah atau sebelum pemilu legislatif, dan berapa jumlah suara yang sebaiknya dimiliki oleh pengurus DPP, DPD, serta organisasi pendukung Golkar. Kompromi memang sudah dicapai, baik mengenai waktu konvensi ataupun jumlah suara masing-masing elite partai. Total pemilih yang menentukan calon presiden Partai Golkar kelak kurang dari 600 orang saja. Model ini mengandung satu kelemahan mendasar. Pilihan elite partai sangat mungkin berbeda dengan pilihan para pemilih yang sebenarnya, yang nanti paling menentukan siapa Presiden Indonesia di tahun 2004. Aspirasi politik pengurus partai, belum tentu sama dengan aspirasi pemilih yang riil.
Pengurus partai sangat mungkin tidak mewakili aspirasi populasi wilayahnya karena beberapa sebab. Mungkin ia teralienasi karena kurang intens berhubungan dengan populasi riil. Namun, dapat pula kesenjangan itu disebabkan oleh kepentingan politik sesaat, dari kemungkinan mobilisasi vertikal sang pengurus sampai kemungkinan bekerjanya money politics.

Amerika Serikat sendiri segera memperbaiki model konvensi partai politik. Diperkenalkanlah model primary election yang mendahului konvensi partai. Yang menentukan calon presiden partai bukan lagi segelintir pengurus elite partai, tapi populasi pemilih itu sendiri. Konvensi partai tidak lagi memilih calon presiden partai, tapi sekadar mengesahkan calon presiden yang sudah dipilih melalui primary election.
Pemilihan presiden di AS dilakukan bulan November. Konvensi partai umumnya dilakukan tiga bulan sebelumnya, sekitar Juli atau Agustus. Sedangkan primary election diselenggarakan sekitar mulai Febuari atau Maret sampai Juni di tahun pemilihan yang sama, dan di semua negara bagian. Dalam primary election, masing-masing calon presiden partai berkampanye, memobilisasi dukungan, sebagaimana layaknya pemilihan umum. Debat kandidat juga diselenggarakan. Saling mengevaluasi atau mengkritik antarkandidat juga terjadi.
Model primary election ini memberikan beberapa keuntungan. Pertama, daya tahan dan seleksi calon presiden partai sudah diuji oleh publik luas. Keunggulan calon presiden yang satu daripada yang lain, tergambar dalam cara ia memobilisasi pendukung, meyakinkan publik, ataupun menawarkan aneka program. Metode primary election ini memotret secara jelas, calon presiden partai in action, ketika mereka secara riil harus bertarung merebut hati pemilih. Kedua, calon presiden partai juga mendapatkan perhatian pers lebih awal dan lebih banyak. Publikasi awal ini membuat calon presiden partai semakin populer, dan semakin lihai di ruang publik. Sementara dinamika primary election itu juga memudahkan calon untuk menarik para investor atau penyumbang dana.
Ketiga, yang lebih penting lagi, populasi setiap wilayah, negara bagian, akan memilih calon presiden dari partainya sendiri. Yang memilih bukan lagi sekadar ratusan, tapi jutaan populasi. Di AS, sendiri, ada dua model primary election. Ada model yang tertutup, populasi yang berhak memilih hanyalah yang punya kartu anggota partai. Atau model terbuka, semua penduduk di wilayah itu boleh juga memilih. Mereka yang terpilih dalam konvensi partai melalui primary election adalah tokoh yang paling populer di mata populasi pemilih, bukan sekadar di mata pengurus partai yang sangat segelintir itu. Setelah selesai primary, lalu dilakukan konvensi partai. Setiap negara bagian, tidak diberi jatah suara yang sama. Karena, populasi pemilih di setiap wilayah berbeda, dengan sendirinya, wilayah yang besar populasinya punya hak suara lebih besar ketimbang yang populasinya kecil. Sementara konvensi Partai Golkar memberikan suara yang sama kepada semua DPD, tak peduli jumlah populasi di wilayah provinsi atau kabupaten masing-masing.
Jika Partai Golkar memang serius ingin menang dalam pemilihan presiden, jangan tanggung-tanggung dengan model konvensi partai. Model primary election AS dapat diadopsi sebelum diselenggarakan konvensi partai. Serahkan hak memilih kepada pemilih yang sebenarnya, bukan kepada pengurus partai yang segelintir.

Media Indoensia, Senin, 5 Mei 2003
Denny JA PhD, Direktur Eksekutif Yayasan Universitas dan Akademi Jayabaya
Sumber: https://groups.yahoo.com/neo/groups/indonesia_damai/conversations/topics/27843

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s