Siapa Yang Saya Coblos?

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tinggal menghitung hari, kampanye dari berbagai partai politik sedang diselenggarakan. Kampanye merupakan tahap perencanaan kebijakan, oleh karenanya masyarakat jangan mudah tertipu, masyarakat harus benar-benar memilih sesuai dengan hati nuraninya, hati nurani merupakan proses terakhir setalah proses penyelidikan satu persatu sosok-sosok yang tampil di permukaan televisi dan yang langsung turun ke masyarakat.
Judul diatas merupakan pertanyaan seorang istri kepada bapaknya, saya saat itu sedang membeli kopi dipagi hari dan duduk-duduk sejenak di warungnya. mereka berdua seorang penjual kios kecil di daerah Kukusan Depok Jawa Barat. Istri bertanya-tanya kepada suaminya sambil mengeluh, Pak, Siapa yang harus kita pilih padahal kita tidak mengenal mereka?, suami itu menjawab: begini aja bu, kita hidupkan saja televisi dan kita lihat siapa yang muncul dilayar televisi paling banyak, nanti dia kita pilih pada 9 April 2014. Istri berkata lagi: betul juga ya pak, kita tidak usah mencari-cari lagi.
Kisah diatas merupakan gambaran masyarakat di sebuah desa, seandainya saja mereka tidak mempunyai televisi, mereka dengan sangat mudah tertipu dengan bisikan-bisikan tetangganya. Akhirnya money politic menjadi jurus alternatif. Banyangkan seorang pemimpin dengan logika sederhananya berkata “uang serangan fajar adalah uang korupsi yang tidak bersih, itu uang rakyat, biarlah kita kembalikan lagi ke rakyat tanpa memerlukan balas budi mereka”.
Proses mengenali, memahami dan mencintai bukan perkara mudah, ketiga itu saling berkaitan satu sama lain, bagaimana mungkin kita bisa mencintai pemimpin tetapi kita tidak kenal. Ada sebuah pernyataan yang terkenal “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta” bisa kita ambil jadikan contoh kecil dalam keterkaitan ketiga proses diatas. Ketidaktahuan dan ketidakpahaman seseorang terhadap sesuatu adalah bukti dirinya tidak tahu arti atau makna sesuatu itu, ketidaktahuan itu berlanjut dengan ketidakhormatan atau tidak menghargai dirinya terhadap sesuatu itu. Apa yang harus dihargai, sedangkan dirinya tidak mengerti, apa yang harus dituruti sedangkan dirinya tidak mengenali pembuat dan penyuruh, begitu seterusnya.
Memilih sebuah keniscayaan, tidak memandang sekat, jika amanah, jujur, dipercaya dan toleransi maka ia wajib dipilih, dalam negara yang multiagama seperti ini, tidak pantas lagi kita membicarakan hanya agama tertentu saja yang pantas memimpin negara ini, persoalaan ini sangat klasik dan tiada berujung, ia akan berujung jika negara tersebut adalah negara Islam, tetapi Indonesia tidak demikian, kita negara yang didiami banyak agama.
Golput-pun bukan masanya lagi, tahun ini adalah penentuan negara kita kedepannya, tidak hanya tahun politik dan panggung sandiwara semata. Tetapi banyak masyarakat yang kebingungan dengan para calon pemimpin yang mereka usung, dan masalah ini semakin komprehensif ketika mereka tidak mengenalinya, buntutnya tidak mencintainya. Ada problem solving yang bijaksana, jika masyarakat tidak menemukan sosok pemimpin yang memenuhi kreteria sebagai pemimpin, maka pilihlah yang paling sedikit “mudhorot”nya, ini sudah jalan terakhir.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya mengutip pernyataan Andrinof A Chaniago (Direktur Eksekutif Surveyors Group) “jangan mencari pemimpin dari megaphone atau microphone, anda akan lebih tertipu. Carilah pemimpin lewat bukti-bukti dan jejak-jejak kebaikan mereka”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s