Pandangan Quraisy Syihab Tentang Jaminan Surga Untuk Nabi Muhammad

Penafsirannya yaitu kejahatan yang terpendam di dalam jiwa. Kita semua memiliki kesalahan, keburukan, nafsu yang mendorong kepada kejahatan, sehingga bila kita mendengar berita yang sejalan dengan hal-hal di atas, kita menjadi senang, bahkan menambahnya, karena menganggap hal tersebut sebagai pembenaran atas kelemahan pribadi kita atau pembenaran atas niat buruk kita, ungkap Zaky Abdul Qodir dalam kolom Nahwa al-Nur.

Bismillahirrahmanirrahim
Di tengah hiruk pikuk perpolitikan yang ada belakangan ini, kita disajikan sebuah berita yang mendiskreditkan atau ingin memojokkan sosok Quraisy Shihab, tokoh mufasir ternama Indonesia abad modern, yang tulisannya banyak dijadikan penelitian dalam bidang tafsir al-Qur’an khususnya.
Quraisy Shihab lahir pada tanggal 16 Februari 1944 di Rapang, Sulawesi Selatan. Keluarga keturunan arab yang terpelajar, ayahnya Abdurrahman Shihab juga seorang ulama dalam bidang tafsir al-Qur’an, kontribusinya dalam bidang pendidikan ketika menjadi rektor UMI (Universitas Muslim Indonesia) dan IAIN Alaudin Ujung Pandang.
Benih-benih kecintaannya kepada al-Qur’an merupakan warisan dari ayahnya. Pendidikan formalnya dimulai dari SD di Ujung Pandang. SLTP di kota Malang sambil nyanti di Pondok Pesantren Darul Hadist al-Falaqiyah. Selanjutnya, ayahnya mengirim beliau ke al-Azhar, Cairo tahun 1958 dan diterima tingkat dua Tsanawiyah. Setelah itu ia melanjutkan ke Universitas al-Azhar pada Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir dan Hadis, tepat pada tahun 1967 ia meraih gelar LC. Tahun 1969 ia meraih gelar MA dengan tesis al-I’jaz al-Tasryi’i al-Qur’an al-Karim (kemukjizatan al-Qur’an al-Karim dari segi hukum). Tahun 1973 ia balik ke Ujung Pandang dan menjadi wakil rektor bidang akademis dan kemahasiswaan sampai tahun 1980. Di tahun yang sama 1980 ia kembali ke al-Azhar untuk melanjutkan studi doktoralnya, ia meraih gelar doktor hanya membutuhkan waktu 2 tahun dengan disertasi Nazm al-Durar li al-Biqa’i Tahqiq wa Dirasah (kajian terhadap kitab Nazm al-Durar). Sekilas profil beliau dan kawan-kawan bisa membaca profilnya di pelbagai buku-buku yang ada.
Howard M Federspiel mengatakan sosok Quraisy Shihab sangat unik, ia seorang terdidik yang lebih baik dibandingkan dengan hampir semua pengarang lainnya yang terdapat dalam Populer Indonesian Literature of The Qur’an. Di dalam bidang tafsir metodologi yang dipakainya yaitu maudhu’i. Karya ilmiahnya dalam bidang tafsir yaitu Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an sebanyak 15 jilid dan untuk pelbagai macam metode dalam bidang tafsir kita bisa membaca karyanya Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, Dan Aturan Yang Patut Anda Ketahui Dalam Memahami Ayat-Ayat al-Qur’an. Keduanya menjadi pavorit saya diantara pelbagai karyanya yang saya koleksi.
Quraisy Shihab bukan pertama kali ini dituduh sebagai orang Syi’ah apalagi sesat, ketika menerbitkan buku Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan: Mungkinkah! Beliau dituduh Syiah dan oleh Tim Penulis Buku Pustaka Pondok Pesantren Sidogiri dibantah dengan judul buku Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah? Jawaban atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?” pada tahun yang sama 2007. Tanggapan ringan dari Quraisy Shihab atas reaksi terhadap bukunya oleh salah satu pesantren bisa kita lihat di dalam Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Para Ulamanya Yang Mukhtabar dengan berargumen bahwa “jika saya bereaksi dengan membantahnya lagi saya merasa terlambat lahir”. Kawan-kawan bisa membaca tanggapan ringannya dengan membeli bukunya atau mendownload via google.
Quraisy Shihab pada bulan ramadhan kali ini setiap menjelang sahur menjadi narasumber di salah satu media televisi Metri TV dengan judul Tafsir Al-Misbah, tepat pada tanggal 12 Juli 2014 pada menit ke 19 sampai 23an (versi youtube.com denagn judul Pernyataan Sesat Quraisy Syihab Bahwa Nabi Tidak Dijamin Masuk Surga) membahas masalah kemuliaan Rasulullah dan jaminan masuk surga baginya. Setelah viedonya diunggah pada tanggal 14 Juli 2014, dikutip oleh situs http://www.kiblat.net dengan judul Quraisy Shihab: Tidak Benar Nabi Muhammad SAW Mendapat Jaminan Surga dan dikutip lagi oleh situs http://www.arrahmah.com dengan judul Sebut Nabi Muhammad tak dijamin surga, Quraish Shihab keliru tafsirkan dalil.
Dalam ajaran-ajaran samawi manusia akan memperoleh balasan sesuai amal perbuatannya di dunia. Khusus dalam al-Qur’an tempat kenikmatan di akhirat kelak diungkapkan dengan kata al-Jannah (tunggal) atau al-Jannat (jamak). Jika dilihat dari akat katanya dari jim dan nun menurut pakar bahasa Ibnu Faris maknanya tirai atau tutup. Dalam Qur’an kata al-Jannah dengan pengertian surga seluruhnya berjumlah 71, 51 tergolong Makkiyah (diturunkan sebelum Nabi berhijrah) dan 20 tergolong Madaniyah (setelah Nabi berhijrah). Al-Ragib al-Isfahani dalam Mufradat Alfazil-Qur’an menyebut surga ada tujuh buah sedangkan Ibnu Qoyyim dalam Hadil-Arwah ila Biladil-Afrah menyebut 12 nama surga.
Mari kita kaji kalimat yang menjadi persoalan saat ini yaitu “Tidak benar. Saya ulangi lagi tidak benar bahwa Nabi Muhammad mendapat jaminan Surga” dan kita tidak boleh memisahkan pernyataan diatas dengan kalimat “tidak seorang pun orang masuk surga karena amalnya, dia berkata baik amalnya akan masuk surga, surga adalah hak prerogratif Tuhan” dan “Kalau ditanya, kamu pun tidak wahai muhammad? kecuali kalau Allah menganugerahkan rahmat kepada saya”.
Dari awal saya mengatakan bahwa metodologi penafsiran Quraisy Shihab dibangun diatas metodologi maudhu’i. Oleh karenanya Kalimat “Tidak benar. Saya ulangi lagi tidak benar bahwa Nabi Muhammad mendapat jaminan Surga” perlu kita tinjau juga dengan metodologi maudhu’i.
Menurut saya, Quraisy Shihab menempatkan Nabi Muhammad pada sisi seperti “al-Basyar (manusia biasa)”. Pada tatanan sisi dimana manusia mempunyai dosa, kesalahan dan khilaf. Pada QS. Abasa/80: 1-2 bagaimana Allah menegur Nabi Muhammad dengan cara yang sangat halus. Al-Biqa’i mengatakan Allah melakukan demikian karena perbuatan Nabi kepada Abdullah ibn Ummi Maktum. Ditengah kesibukan Nabi menjelaskan kepada tokoh-tokoh musyrikin Makkah, diantaranya Walid ibn al-Mughirah tiba-tiba datang Abdullah ibn Ummi Maktum dan membuat Nabi tidak berkenan, Nabi terlihat pada air mukanya tidak merasa senang.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa Nabi melakukan kesalahan tetapi perbuatan Nabi tersebut “tidak patut ia lakukan”, karena itu diluar kebiasaannya yang kasih sayang kepada orang lain. Pada sisi “al-Basyar (manusia biasa)” ini tidak ada salahnya Quraisy Shihab mengatakan bahwa Nabi Muhammad sekalipun tidak dijamin masuk surga. Tetapi mari kita lihat runrutan logika yang dibangun Quraisy Shihahb. Setelah demikian, dimana para sahabat MENGIRA bahwa Nabi Muhammad dijamin masuk surga, karena sahabat sekelilingnya mengira amal kebajikan Nabi itulah yang bisa membuat dirinya masuk surga. Maka turunlah hadis: Tidak ada seorangpun yang dimasukan surga oleh amalnya.”Para sahabat bertanya, “Termasuk anda, wahai Rasulullah?” “Termasuk saya, hanya saja Allah meliputiku dengan ampunan dan rahmatnya.
Hadis diatas disandarkan oleh Quraisy Syihab pada Qs. Fathir/35: 35 (darul muqamat) yang artinya: “Yang dengan “karunia-Nya (fadhl) menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu”. Hadis dan ayat inipun diperkuat lagi dengan perkataan Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam kitabnya al-Hikam al-‘Athaiyyah Syarah wa Tahlil pada bagian pertama (hikmah pertama), yang artinya: Termasuk tanda berpegang pada amal adalah kurang mengharapkan ampunan Allah Swt ketika berbuat kesalahan. Artinya, seharusnya seseorang tidak boleh menganggap amalnya dia itu yang memberesi semua tetapi ridho Allah terhadap amal itulah yang memberesinya. Amal tanpa ke-ridho-an Allah tidak ada gunanya.
Sedangkan pada sisi kedua Nabi Muhammad “la ka al-Basyr (tidak seperti manusia biasanya)”. Pada kalimat “tidak seorang pun orang masuk surga karena amalnya, dia berkata baik amalnya akan masuk surga, surga adalah hak prerogratif Tuhan” dan “Kalau ditanya, kamu pun tidak wahai muhammad? kecuali kalau Allah menganugerahkan rahmat kepada saya” ini terlihat Allah membuat Nabi Muhamad berbeda, berbeda karena dosanya telah diampuni (QS. al-Fath/48: 2). Dilain Ayat juga Qs al-Nahl/16: 32 yang artinya “Masuklah kamu ke dalam surga itu di sebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. Ayat ini memang jika dilihat dari segi dzohirnya akan timbul penafsiran bahwa amal itulah yang menjadikan seseorang memperoleh surga padahal tidak, disini dibutuhkan ridho-Nya.
Dua ayat diatas mengindikasikan kepada kita bahwa amal Nabi Muhammad dijamin telah diridhoi-Nya, disini berbeda dengan amal yang kita kerjakan, maka selanjutnya Quraisy Shihab “tapi buat kita, bahwa kyai sebesar apapun, setaat apaupun jangan pastikan bahwa dia masuk surga”. Ini sudah jelas, mengapa saya mengatakan bahwa Nabi Muhammad dijamin masuk surga karena telah diridho-Nya, karena Nabi Muhammad di dalam pelbagai hadistnya telah dijamin oleh Allah. Misalnya dalam Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ay al-Qur’an Tafsir al-Thabari (jilid 10) pada QS. al-Kaustar/108: 1 ketika mengatakan bahwa al-Kaustar itu sungai yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw oleh Allah di dalam surga. Di lain itu yang dimaksud yaitu kebaikan yang banyak. Artinya, memang Nabi Muhammad disamping sudah dijamin karena sudah mendapatkan ridho-Nya – sedangkan kita berbuat amal belum tentu diridho-Nya dan amal kebajikannya lebih banyak dari apa yang telah kita lakukan.
Jadi Menurut saya pembahasan surga oleh Qurais Shihab tidak bertentangan dengan ajaran agama, tetapi memang ada kelompok-kelompok tertentu yang memburamkan atau memenggal-menggal pernyataan Quraisy Shihab. Dan kita tidak boleh luput, orang yang mengatakan sesat atau menilainya salah dalam menafsirkan al-Qur’an adalah mereka yang memang awalnya tidak suka dengan pemikiran Quraisy Shihab. Penafsiran seseorang boleh berbeda tetapi menyalahkan penafsiran dengan menyesatkan adalah kesalahan yang fatal. Al-Qur’an adalah bersifat tetap tetapi pemaknaan terhadap al-Qur’an tidak tetap. Pelbagai mufasir yang telah membuat penafsiran terhadap kandungan ayat al-Qur’an tetapi tidak ada yang menyesatkan karena perbedaan pendapat.
Tulisan saya kali ini sekedar mengingat-ingat kembali ilmu yang saya miliki, jika terdapat perbedaan saya mempersilahkan kepada khalayak untuk mengkritik tetapi dalam koridor ilmiah, tidak ada kata sesat menyesatkan, kafir dan mengkafirkan karena itu bukan sifat seorang akademisi. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

9 thoughts on “Pandangan Quraisy Syihab Tentang Jaminan Surga Untuk Nabi Muhammad

  1. Kalo secara Umum, Orang kebanyakan akan kaget dgn statement Quraisy Syihab tsb, sedangkan Rasulullah saw sudah dijamin Surga, namanya juga Habibullah, kekasih Allah. Tidak akan masuk Surga Nabi dan Rasul yang lain sebelum Rasulullah saw masuk ke Surga.

  2. saya mau menanggapi blog anda yang bilang Prof Quraish sudah keliru menafsirkan nabi Muhammad dijamin masuk surga.

    Saran saya kepada anda supaya anda lebih banyak belajar lagi dan lebih banyak mendengarkan ceramah lagi agar tidak hanya mengomentari saja yang tanpa dasar.

    Prof Quraish seorang guru besar, memang benar apa yang beliau katakan bahwa Surga dan Neraka adalah HAK Prerogratif Allah. Nabi Muhammad memang tidak dijamin masuk Surga, akan tetapi nabi Muhammad adalah orang yang pertama kali masuk Surga karna Anugrah dan Rahmat yang Allah berikan pada Rasul. Karena Ajaran Islam itu tidak mengenal istilah/Menjamin seseorang masuk Surga, Tetapi agama Islam Menjanjikan Seseorang masuk Surga bedasarkan tuntunan-tuntunan dalam Al Quran karena kembali lagi ke awal bahwa Surga dan Neraka itu Hak Prerogratif Allah hanya Allah yg dapat memastikan siapa-siapa saja yang masuk ke surga atau ke neraka. Terkecuali anda beragama keristen, karna pada ajaran agama keristen percaya pada Yesus dijamin masuk Surga (menurut teori mereka). Jadi Kesimpulannya pada Agama Islam itu tidak menjamin seseorang masuk Surga, tetapi Agama Islam menjanjikan seseorang masuk Surga. Itu kesimpulannya

    Lantas anda bilang Quraisy Shihab menempatkan Nabi Muhammad pada sisi seperti “al-Basyar (manusia biasa)”. Itu kan menurut pendapat anda, memangnya anda dapat mengetahui maksud seseorang? Anda tidak bisa mengetahui maksud seseorang.

    Prof Quraish seorang Intelektual Islam beliau pernah menjabat Menteri Agama RI dan Rektor di berbagai Universitas di Indonesia, dalam penyampain materi logikanya sangat bermain, karya-karya tulisnya pun sudah banyak yang dipublish. Lantas anda jangan seenaknya berkomentar beliau salah dalam mentafsirkan.

    Sekali lagi saya tegaskan Berfikir dahulu sebelum menuduh orang salah dalam ini atau itu. Terimakasih Wss Wrb

    Silahkan Kalau ingin menanggapi.

  3. ASSALAMUALAIKUM…. alhamdulillah bagus sekali ulasannya sedikit banyak membuka cakrawala berfikir saya. tapi diluar konteks ini saya pernah menonton sebuah vidio di youtube ada seorang ahli ilmu agama yang berkata bahwa quraish sihab tidak mewajibkan jilbab hanya cukup dengan berpakaian yang sopan saja, terbukti dengan putrinya sendiri yang tidak berhijab tuturnya, yang mau saya tanyakan apakah benar seperti itu? apakah benar dalam islam hijab tidak diwajibkan atas wanita muslimah? jazakalloh khoiron katshiroo

    • Wa’alaikumsalam Wr Wb
      Maaf baru buka lagi, Saya sarankan sampean beli bukunya terlebih dahulu sebelum menanggapi berbagai situs yang ada, karena akan terjadi kesalahpahaman. Saya murid pak Quraisy Syihab, beliau tidak berkata demikian, jika ada yang bertanya beliau memberikan pelbagai dalil, si penanya dipersilahkan mengambil dalil itu sesuai hatinya. Untuk anaknya beliau sudah memberitahukan tetapi anaknya tidak mau, lagipula di dalam agama tidak ada paksaan dalam memakai atribut.

  4. namun, gmn jika memang sudah kesepakatan ulama dilawan sama QS? Dan bgmn jika fakta yang disajikan, bukan asumsi, apakah itu melanggar sisi akademisi? Kembali kepada akademisi, manakah yg dijadikan sandaran, apakah akademisi versi siapa? Wajar jika ummat mendapatkan informasi mengenai fakta siapa QS, agar ummat bisa memilih dan memilah, mana yg bisa menjadi panutan dan mana yang pengkhianat ummat. Izin share Min🙂 http://silontong.com/2014/07/16/fakta-keislaman-quraish-shihab-di-ragukan-dan-di-pertanyakan/

    • Al-Qur’an secara teks tidak ada perubahan tetapi penafsiran seseorang tergantung zamannya, terkait pak Quraisy Syihab, orang-orang yang menuduhnya pun tidak pernah klarifikasi kepadanya, bahkan kami sering mengajak debat kaum PKS atau ITJ yang suka memojokkan beliau di PSQ tetapi lagi-lagi tidak ada tanggapan. Syukron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s