Festival Keagamaan

Detik-detik menjelang lebaran aku selalu terngiang-ngaing akan sajak Sitor Situmorang yang berjudul “Malam Lebaran” dengan satu kalimat yaitu bulan di atas kuburan. Sajak tersebut cukup terkenal di bumi pertiwi ini, bukan dikarenakan ditulis oleh orang tersohor sekaliber Sitor Situmorang melainkan esoterisme sajak yang terasa paradoks itu selalu melahirkan makna baru bagi si pembaca.
Ringkasnya, konon penulisan sajak pendek itu ketika Sitor Situmorang ingin silaturrahmi ke rumah Pramoedya Ananta Toer dan tersesat. Dibalik tembok putih ia melihat sebuah kuburan dan terciptalah sajak fenomenal tersebut.
Kata “bulan” dan “kuburan” memang sebuah metafora yang bertubrukan. Kata “bulan” selalu digambarkan akan kebahagian seseorang menyambut datangnya hari raya ‘Idul Fitri, sedangkan kata “kuburan” digambarkan akan kesedihan seseorang, kegelapan dan berjiwa kotor.
Idul Fitri di negara kita tidak saja perayaan keagamaan tetapi sekaligus perayaan kebudayaan. ‘Id artinya kembali dan fitri artinya suci. Puasa Ramadhan beberapa hari akan kita tinggalkan, kita akan keluar dari rahim Ramadhan yang penuh dengan godokan dan latihan dengan sebuah kemenangan dan kebahagiaan.
Pelbagai latihan esoteris puasa kita tempuh, tetapi dengan dimensi bathiniyah yang bersih seseorang belum mampu menjadi insan kamil (manusia sempurna), harus ada dimensi eksoterik yang kita tempuh juga yaitu dengan lebaran. Lebaran yang dikenal sebagai kearifan lokal menyimpan makna liberasi (pembebasan) dari simbol kebinatangan yang memiliki kecenderungan untuk menguasai benda menuju kesucian sebagai fitrah manusia dan dalam bahasa Sosiologi “attachment total” – meninggalkan individualisme yang mengakar pada egoisme (ke-AKU-an) menuju maiyah atau kebersamaan. Al-Qur’an menggambarkan sifat fitrah itu sering dilanggar oleh manusia dengan melakukan kesalahan dan kekhilafan karena tidak mengetahui (Qs. al-Rum/30: 30).
Bulan kebahagian itu bisa kita dapatkan dengan hati yang gembira, tetapi pertanyaan kuno mengintari kita yaitu bagaimana nasib orang miskin. Logika kapital telah mengitari kita, konsumsi sehari-hari yang naik, peralatan untuk lebaran meningkat dan tiket mudik yang mahal membuat segelintir masyarakat Indonesia tidak bisa menikmati seperti halnya kita. Gambaran “bulan” diatas belum bisa kita dapatkan karenanya Islam menyuruh penganutnya untuk mengeluarkan zakat sebagai pembersih harta, di dalam harta kita terdapat harta kekayaan orang lain.
Lebaran kita sambut dengan pelbagai adat dan kebudayaan masing-masing daerah, didalamnya terdapat spirit pencerahan, indikasi ini ditandai dengan kesadaran kolektif manusia untuk kembali kepada orientasi kehidupan yang bersih. Momentum lebaran ini membuat manusia tidak saja tersucikan oleh hubungannya dengan Tuhan tetapi manusia.
Keadaan-keadaan suci itu harus terus kita pertahankan dari alam kegelapan (kuburan), tidak saja pada ranah individual tetapi dalam negara pun harus menang atau keluar dari praktek-praktek yang dilarang oleh Tuhan. Kita harus menyakini akan hadirnya Tuhan tidak saja dalam kesunyian – meminjam istilah Goenawan Mohamad bahwa Tuhan (Islam) pertama kali hadir di dalam kesepian – tetapi kita harus yakin ada dalam keramaian.
Pemerintahan baru nantinya harus mengambil spirit puasa dan Idul Fitri karena praktek korupsi dan sejenisnya merupakan pengingkaran spirit itu. Keteladan seorang pemimpin yang suci dari KKN akan melahirkan bangsa yang bermartabat, berkualitas dan bersih. Kita tidak saja baru dalam hal serba-serbi festival lebaran tetapi kita juga harus festival keteladan. Inflasi nilai-nilai ideal kehidupan yang kita dapatkan ketika puasa dan momentum Idul Fitri harus ada dalam jiwa-jiwa masyarakat Indonesia.
Semoga kita menjadikan momentum ini sebagai representasi untuk menggapai harapan baru atau lebih baik dimasa yang akan datang. Selamat menunaikan ibadah Idul Fitri. Wallahu a’lam bish-shawab.

One thought on “Festival Keagamaan

  1. Saya rasa anda salah mengartikan Fitr. Fitr berarti Sarapan Pagi, tidak ada hubungan dengan kesucian (Fitri). Kapitalisasi Agama selalu melibatkan terjemahan yang sengaja diselewengkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s