Abdul Mun’im al-Maraghi

Nama lengkapnya Ahmad Mustafa bin Muhammad bin Abdul Mun’im al-Maraghi, lahir di desa al-Maragah[1] pada Rabi’ul akhir tahun1289,atau bertepatan pada 9 Maret 1881[2]. Ia dikenal sebagai sebutan al-Maraghi karena dinisbatkan kepada kota kelahirannya.

Jenjang Pendidikan dan Pengabdian

Al-Maraghi dibesarkan bersama delapan saudaranya dibawah naungan rumah tangga yang sarat pendidikan agama. Dikeluarga inilah al-Maraghi mengenal dasar-dasar agama sebelum mengenal dan menempuh pendidikan dasar disebuah madrasah di desanya. Di madrasah, ia rajin mempelajari al-Quran, baik untuk membenahi bacaan maupun untuk menghafalnya. Karena itulah semenjak umur 13 tahun ia telah hafal al-Quran.[3]

Kemudian jenjang pendidikannya dilanjutkan di madrasah di kota Thahta[4], desa ini terletak tidak jauh dari kampung asalnya. Disana ia mempelajari agama, kemudian pada tahun 1314 H/1897 M al-Maraghi menempuh kuliah di Universitas al-Azhar dan Dar Ulum keduanya terletak di Kairo. Al-Maraghi sangat tertarik untuk belajar di al-Azhar karena pada waktu itu terdapat para guru besar seperti Muhammad Abduh. Di al-Azhar ia selalu mengikuti pengajian balaghah dan tafsir yang diasuh langsung oleh Muhammad Abduh. Al-Maraghi dianggap sebagai salah satu murid Muhammad Abduh, tetapi pengajian yang diikuti al-Maraghi dengan gurunya Muhammad Abduh tidak berlangsung lama karena ia merampungkan pendidikannya pada tahun 1904 M dan langsung diangkat menjadi staf pengajar di Universitas al-Azhar.[5]

Dari dua universitas top ini, al-Maraghi menyerap ilmu dari beberapa ulama kenamaan seperti Muhammad Abduh, Muhammad Bukhait al-Muth’i, Ahmad Rifa’i al-Fayumi, dan lain-lain. Mereka mempunyai andil besar dalam membentuk bangunan intelektualitas al-Maraghi.

Lulus dari universitas bergensi tersebut dan setelah mengabdikan diri sebagai guru di beberapa madrasah. Tak lama kemudian dia diangkat menjadi seorang Hakim di Danqalah, Sudan. kemudian pada tahun 1970 dia diangkat menjadi Qadhi di ibukota Sudan, Khurtum.

Karena kecakapan dan kelihaian al-Maraghi dalam menjalankan tugas tercium oleh pemerintah Mesir al-Maraghi dia dipanggil oleh pemerintah Mesir untuk diangkat menjadi pengawas kementrian perwakafan pada tahun 1907 M. Dan pada tahun 1909 al-Maraghi kembali lagi ke Negara Sudan dan diminta untuk menjadi Hakim Agung Negara Sudan. Kemudian pada tahun 1923 ia kembali lagi ke Mesir atas perintah presiden kala itu untuk mendirikan رئاسة المحكمة العليا الشرعية.[6]

Syaikh Al-Azhar

Pada tanggal 22 mei 1926, al-Maraghi diangkat menjadi Green Syekh Al-Azhar, ketika menjadi Syaikh al-Azhar, al-Maraghi banyak melakukan perubahan untuk kemajuan al-Azhar.

Peninggalan Berharga

Al-Maraghi adalah seorang tokoh ulama pada zaman itu yang mempunyai banyak jasa bagi rakyat Mesir dan bagi Civitas Intelektualitas Universitas al-Azhar diantara jasa-jasa beliau adalah:

  1. Keputusannya ketika menjadi ketua di lembaga hukum syari’ah tertinggi kepada para hakim untuk tidak Bertaqlid kepada salah satu 4 madzhab. Tetapi para hakim diberi kebebasan untuk memutuskan hukum yang sesuai dengan kondisi zaman dan tempat yang berlaku pada saat itu sebagaimana yang dikatakannya:

ضعوا من المواد ما يبدو لكم أنه يوافق الزمان والمكان وأنا لا يعوزني بعد ذالك أن أتيكم بنص من المذاهب الإسلامية يطابق ما وضعتم

  1. Reformasi di Universitas al-Azhar

Karya-karyanya

١.بحث فى ترجمة القران الكريم واحكامها

٢.رسالة الأولياء المحجوبين التي حصل بها علي عضوية كبار العلماء

٣.بحوث فى التشريع الإسلامي

٤.تفسير جزء تبارك

٥.تفسير سورة الحجرات

٦.تفسير سورة الحديد وايات من الفرقان

٧.تفسير سورتي لقمان و العصر

٨.الدروس الدينية التي كانت يلقاها فى المسجد

Wafat

Al-Maraghi meninggal di kota Iskandariah, malam Rabu tangal 14 -9-1374 dan bertepatan pada Agustus 1945. Atas jasa-jasanya, namanya diabadikan sebagai salah satu jalan kota di kota tersebut[7].

B.                 Profil tafsir

1.                  Nama dan latar belakang penulisan

Al-Maraghi merupakan  potret ulama yang produktif yang mengabdikan hampir seluruh waktunya untuk kepentingan ilmu, disela kesibukannya belajar dan mengajar, ia telah menyisihkan waktu untuk menulis. Dan karyanya yang monumental adalah Tafsir Al-Quran Al-Karim yang lebih dikenal dengan Tafsir al-Maraghi.

Tafsir al-Maraghi ditulis selama kurang lebih 10 tahun, sejak tahun 1940-1950 M. Menurut sebuah sumber, ketika menulis tafsirnya, ia hanya beristirahat selam empat jam sehari. Dalam 20 jam yang tersisa, ia gunakan untuk mengajar dan menulis.

Ketika malam bergeser pada paruh akhir kira-kira pukul 3.00, al-Maraghi memulai akitivitas dengan salat tahajud dan solat hajat.

2.                  Latar Belakang Tafsir al-Maraghi

Dalam muqaddimah tafsirnya, al-Maraghi menuturkan  alasan menulis kitab tafsir. Ia merasa ikut bertanggung jawab untuk mencari solusi terhadap berbagai masalah yang mewabah di masyarakat berdasarkan al-Quran, di tangan al-Maraghi, al-Quran ditafsirinya dengan gaya modern sesuai dengan tuntutan masyarakat. Pilihan bahasa yang disuguhkan kepada pembacapun ringan dan mengalir lancar. Ia melihat bahwa para mufasir terdahulu cenderung menulis tafsir hanya terpaut pada kajian bahasa dan dan tidak menyentuh kajian inti yaitu fungsi al-Quran sebagai Hudan Linnas. Oleh karena itu para penafsir kontemporer salah satunya al-Maraghi mempunyai inisiatif dan merasa terdorong untuk mengarang sebuah tafsir yang langsung mengacu pada fungsi utama al-Quran sebagai Hudan Linnas dan sebagai solusi pada masyarakat social modern dan tidak banyak mengkaji pada kajian bahasa sehingga dapat dengan mudah dicerna oleh masyarakat dan tidak bertele-tele. Pada beberapa bagian, penjelasannya cukup global. Tetapi ditempat lain, uraiannya begitu mendetail, tergantung kondisinya.[8]

Gaya penafsiran seperti ini sebenarnya mirip dengan strategi penulisan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam tafsir al-Mannar, harus diakui al-Maraghi merupakan orang yang sangat terpengaruh oleh kedua penafsir itu.

Tafsir al-Maraghi pertama kali diterbitkan pada tahun 1951 M di Kairo. Pada terbitan perdana, al-Maraghi diterbitkan dengan 30 juz. Tafsir ini juga pernah diterbitkan dalam edisi 15 jilid, setiap jilid berisi dua juz. yang lumrah beredar di Indonesia adalah edisi Tafsir al-Maraghi yang 10 jilid.[9]

Sumber Penafsiran Tafsir al-Maraghi

1. al-Quran

2. al-Sunah

3. Ulama Salaf

4. Kajian Bahasa

5. Menukil dari ulama tafsir terdahulu

Tetapi semua sumber yang al-Maraghi jadikan referensi semuanya dibawah kendali pemikirannya. Apabila ia menganggap benar maka ia akan menukilnya dan apabila ia menggapnya tidak benar maka ia tidak akam mengambil sumber itu.[10]

3.                  Metodologi penafsiran

Para penafsir kontemporer menegaskan bahwasannya fungsi dari al-Quran yang utama adalah sebagai petunjuk untuk menuntun manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Inilah maksud utama diturunkannya al-Quran kepada Nabi Muhammad, sedangkan selain tujuan itu, semuanya  hanya berfungsi sebagai jalan untuk menuju maksud utama, kebahagian dunia dan akhirat.[11]

Ini juga yang dikatakan al-Maraghi dalam muqadimah tafsirnya:”al-Quran diturunkan kepada makhluk yang paling mulia yang megetahui bagaimana maksud diturunkannya.Allah hanya menutut kita untuk memahami ayat-ayatnya yang diturunkan,karena firman-Nya adalah cahaya dan petunjuk bagi seluruh umat manusia.dan Allah menjadikan al-Quran itu mencakup segala sendi kehidupan baik untuk kehidupan di dunia maupun untuk kehidupan di akhirat,dan tidak mungkin bagi umat manusia untuk mengamalkan cahaya firmannya kalau tidak dipahami secara mendalam dan dibukan takbir maknanya.oleh karena itu kita di tuntut untuk memdalami al-Quran dan membukan makna tafsirnya dari segi  bahwasany al-Quran adalah sebagai petunjuk bagi manusia yang menuntunnya kejalan kebahagian baik di dunia maupun di akhirat,sedangkan segala sesuatu yang tidak sejalan dengan tujuan utamannya semuanya hanya berfungsi sebagai wasilah atau jalan untuk mencapai kebahagiaan itu[12]

Mereka sebenarnya ingin mengkritik kepada para penafsir klasik yang tidak menafsirkan al-Quran kepada tujuan utamannya sebagaimana yang ditegaskan oleh al-Maraghi:”kebanyakan para penafsir klasik memusatkan perhatian penafsiran al-Quran bukan pada tujuan utama tetapi hanya kepada wasilah-wasilahnya saja[13]

Oleh karna itu, Muhammad Abduh berkata dalam muqadimah tafsirnya:”Diantara kekuarangan para penafsir adalah menyibukan para pembaca tafsir kepada hal yang bukan tujuan utama.diantara mereka hanya menafsirkan al-Quran hanya dalam bidang pembahasa I’rab,kaidah,kaidah nahwu,ada yang membahasnya dari perbedaan pendapat para ahli mutakalim,istimbat fuqaha,ta’sub para pemngit madzhab,menukil riwayat-riwayat israiliyat yang belum tentu benar,bahkan al-razi memalingkan al-Quran dan menafsirkan al-Quan dengan di tambahkan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat eksak dan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang datangnya dari peradaban yunani kuno”.[14]

Oleh karna itu, para penafsir kontemporer seperti al-Maraghi ingin memberikan nuansa baru dalam menafsirkan al-Quran dengan langsung mengarah kepada pembahasan intinya yaitu sebagai petunjuk bagi manusia dan menuntun mereka kejalan menuju kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat sebagai mana yang dikatakannya:”Sesungguhnya penafsiran al-Quran yang ditulis oleh para mufassir zaman terdahulu disesuaikan dengan penafsiran zaman itu agar supaya penafsiran itu mudah dipahami oleh mereka.dan oleh karan pada setiap zaman mempunyai masa sendiri-sendir dan mempunyai tabi’at dan kebiasaan dan cara berfikir yang berbeda-beda maka para mufassir zaman sekarang harus menggunakan corak baru dalam penafsiran al-Quran dan disesuaikan dengan kondisi,keadaan cara berfikir orang masa sekarang.sebagaimana tujuan inti dari sebuah pembicaraan yaitu:

ان لكل مقام مقال

bagi setiap makam ada maqal

sesorang itu diajak bicara disesuaikan dengan kemampuan akalnya”[15]

Oleh karna itu, kalau kita membaca penafsiran ulama kontemporer seperti al-Maraghi maka kita akan disuguhkan nuansa penafsiran yang berbeda dengan ulama sebelumnya. Dan pada hakikatnya mereka kadang-kadang sependapat dengan metodologi penafsiran ulama salaf dan kadang-kadang mereka juga bertolak belakang dengan metodologi tersebut.

Diantara metodologi penafsiran itu adalah sebagai berikut

I. Al-Wihdah Al-Maudhu’iah Dalam Surah Al-Quran

Yang dimaksudkan dengan wihdah al-maudhu’iyah secara bahasa adalah diambil dari kata wihdah. Menutut Imam Syibawaih kata wihdah berasal dari التوحد (bersatu) atau dengan kata lain berarti التفرد (bersatu)[16]. Sedangkan menurut al-Raghib al-Asfahani berpendapat bahwa kata wihdah berarti:أن الوحدة فى الحقيقة هو الشئ الذي لا جزء له البتة,ثم يطلق على كل موجود  (kata wihdah pada hakikatnya adalah sesuatu yang tidak mempunyai bagian sama sekali, kemudian kata itu berkembang dan diucapkan kepada segala sesuatu yang maujud).[17]

Sedangkan yang dimaksud dengan maudu’ disini berasal dari kata الوضع ضد الرفع  (adalah kebalikannya dari kata tinggi).[18]

Kalau kita gabungkan kedua kata ini maka makna akan menjadi:”Sebuah kesatuan tema yang ditampilkan didalam al-Quran dan didalamnya tidak ada perbedaan sama sekali atau dengan kata lain bersatunya keseluruhan tema.”

Sedangkan yang dimaksudkan wihdah waudhu’iah dalam al-Quran adalah pembahasan tema tema tertentu yang ditawarka oleh al-Quran dalam Surat-Surat yang berbeda-beda agar supaya ada kejelasan tentang makna yang dimaksud yang berhubungan dengan tema yang umum yang dimaksud agar tujuan utamanya tercapai.[19]

Sedangkan yang dimaksud dengan wihdah maudhu’iyah dalam Surah adalah:

البحث عن الهذف الواحد الذي عرضت له كل سورة من السور القران الكريم ومدى ارتباطه فى كل السورة ومن موضوعاتها الأخرى من جدل إلى قصاص الى تشريع الى وصف_فإجاد الوشائج التي ترتب بين موضوعات السورة من أحكام ومبادئ وما تذكره القصص,ومشاهد والخروج من ذالك كله الى هدف واحد يجمع بينها وهو الوحده الموضوعة للسورةز

Artinya:  pembahasan mengenai tujuan utama al-Quran yang ditampilkan disetiap Surah dari Surah-Surah al-Quran semua keterkaitan yang ada didalam berbagai tema di dalam al-Quran semuanya mengacu pada satu tujuan yaitu الوحدة الموضوعة.[20]

Pengerian ini sangat berbeda dengan pengerian ulama-ulama klasik seperti as-Syatibi dan al-Suyuti dan al-Imam Zarkasyi dalam al-Burhan: “Ketersambungan al-Quran dari satu ayat dengan ayat yang sehingga menjadi satu kalimat merupakan ilmu yang agung dan mulia tidak bisa dipahami semua itu kecuali orang-orang yang alim.”[21]

Oleh karena itu, kadang-kadang mereka menolak penafsiran yang bertentangan dengan tujuan utama tema besar Surah al-Quran tersebut, sehingga mereka tetap menjadikan tema Surah sebagai pedoman utama dalam memahami ayat-ayat al-Quran. Contohnya adalah penafsiran Surah al-Imran ayat 37:

كلما دخل عليها زكريا المحراب زجد عندها الرزقا

Dalam menafsirkan ayat ini kebanyaka ulama diantaranya Imam ar-Razq bahwasannya ditemukan di sisi Sayidah Maryam berbagai macam buah-buahan baik yang ada pada musim dingin maupun yang ada dimusim panas.[22]

Penafsiran ini  bertolakbelakang dengan penafsir kontemporer diantaranya al-Maraghi yang mengatakan:

وليس لنا مسند صحيح من كتاب أو سنة يأيد هذه الروايات الإسرائليات

“Kami tidak menemukan musnad yang shohih dari al-Quran maupun hadits yang mendukung pendapat dari riwayat israiliyat ini”[23]

Pendapat al-Maraghi ini juga di dukung oleh gurunya Muhammad Abduh yang mengatakan:

Demi Allah tidak bisa dikatakan begitu,Nabi pun tidak mengatakan begitu,dan pendapat itu tidak bisa diterima oleh rasio yang sehat,apalagi tidak ada sejarah,riwayat dari para mufasir salaf  dan pandangan ini sangat bertentangan dengan sanad-sanad yang shahih”

Lebih lanjut Muhammad Abduh mengatakan:

“ Maka yang paling penting adalah tidak membahas apa bentuk rizki itu,tapi yang laing penting adalah membahas tujuan utama diceritakan kisah ini.hal ini merupakan pengukuhan ke-Nabian Nabi Muhammad SAW dan untuk menolak pengakuannya orang musyrik yang mengingkari ke-Nabian Nabi Muhammad SAW.lebih lanjut bahsannya maksud diturunkannya awahyu adalah pengukuhan terhadap akidah ilahiyah dan masalah yang paling pentingnya adalah masalah ketahuhidan dan pengukuhan keimanan terhadap di bangkitkannya manusia dan balasan yang akan di timpanya,dan untuk mempercayai wahyu dan para Nabi.dan Surat Ali Imran ini di awalai dengan pengebutan tauhid dan diturunkannya al-Quran kemudian dari mulai awal Surat sampai di paparkannya ayat ini tidak lepas dari pembahasan tentang keTuhanan,balasan hari akhir,menghilangkan keraguan kemudina ayat itu di lanjutkan dengan membahas bahwasannya manusia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirt hanya dengan mengikuti Nabi dan Rasul dan kisah ini untuk  menghilangkan keraguan yang lakukan oleh orang-orang musyrikin dan ahli kitab”[24]

II. Al-Quran adalah sumber utama

Yang dimaksudkan disini adalah sebagai mana yang di katakan oleh Muhammad Abduh: ”Al-Quran adalah pijakan utama bagi agama ini, maka kalau dijelaskan di dalam al-Quran tidak perlu lagi untuk mengambil tambahan dari yang lain, tapi kalau tidak ditemukan di dalam al-Quran maka boleh berpegangan pada keterangan hadits oleh karena itu Nabi membenarkan Mu’adz bin Jabal ketika akan diutus ke Yaman dan ini juga yang diwasiatkan kepada para Kahlifa ar-Rasyidin dan para sahabat dan tabi’in yang lain”[25]

Dari pendapat ini tentu mempunyai banyak konsekuensi terhadap penafsiran al-Quran dan tidak jarang al-Maraghi dalam menafsirkan ayat-ayat tertentu bersebrangan dengan ulama terdahulu.

Seperti ketika menafsirkan Surah al-An’am ayat 145:

قل لا أجد فيما أوحي إلي محرما على طاعم يطعمه إلا أن يكون ميتة أو دما مسفوحا أو لحمام خنظير فإنه رجس أو فسقا اهل لغير الله به فمن اضطر غير باغ ولا عاد فإن ربك غفور رحيم

Dalam hal ini al-Maraghi  menafsirkan ayat ini dengan mengatakan:

وما صح من الأحاديث فى النهي عن طعام غير هذه الانواع فهو اما مؤقت واما للكراهة فقط ومن الأول تحريم الحمر الأهلية فقد روى ابن ابي شيبة والبخاري عن ابن عمر قال: نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن لحوم الحمر الاهلية يوم خيبر  ومن الثابي ما رواه البخري ومسلم عن ابي ثعلبة الخشني ان رسول الله نهى عن كل ذي ناب  من السباع وكل ذي مخلب من الطير

 Hadits-hadits yang sohih yang menjelaskan tentang larangan memakan makanan selain apa yang disebutkan di dalam ayat ini maka hal itu bisa jadi karena larangan yang sifatnya sementara atau larangan yang sifatnya makruh, contoh yang pertama adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Syaibah tentang pelarangan burung hamr bahwasannya Nabi  melarang memakan daging burung hamr dihari khibar, dan yang kedua adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari  Abi Tsa’labah al-Khasyani bahwasanya Rasulullah melarang memakan semua hewan buas yang bertaring dan burung pemburu.

III. Al-Quran Universal

Ke universalan al-Quran merupakan refleksi dari keuniversalan risalah al-islamiah sebagaimana firma-Nya:

قل يا أيها الناس إني رسول اللله إليكم جميعا

وما ارسلناك إلا رحمة للعالمين

وما أرسلناك إلا كافة للناس بشير ونذيرا

Oleh karena itu Syari’at Islamiyah selalu umum disetiap zaman dan tempat. Maka, tidak heran lagi kalau al-Quran itu sifatnya umum bagi semua umat manusia.

Hal ini mempengaruhi gaya penafsiran bagi penafsir kontemporer tidak terkeculi al-Maraghi dalam menafsirkan berbagai ayat al-Quran. Dan mereka cenderung memahami ayat-ayat al-Quran itu umum sebagaimana yang diungkapkan dalam usul fikih

العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب

Berbeda dengan pemaham ulama lain yang mengatakan bahwa:

العبرة بخصوص السبب لا بعموم اللفظ

Sebagaimana al-Maraghi memahami Surah al-Baqarah ayat144:

فول وجهك شطر المسجد الحرام وحثيما كنتم فولوا وجوهم شطره

Dengan mengatakan:

والأوامر التي حاءت فى الكتاب موجهة إلى رسول الله هي له ولأمته ألا دل دليل على أنها خاصة به كقوله {خالصة لك من دون المؤمنين}{ومن الليل فتهجد به نافلة لك}وأنما أكد الأمر باستقباله ووحهه الى المؤمنين بعد أن أمر به بنيه وشرفهم بالخطاب بهد خطاب رسوله لتشند عزيمتهم وتطمئن قلوبهم ويتلقوا تلك الفتنة التي اثاها المنافثون واهل الكتابب واليهوود بعزيمة صادقة وثبات على اتباع الرسول

Perintah yang ada dalam ini di tujukan khusus untuk Nabi Muhammad,akan tetapi sebenarnya perintah itu umum ditunjukan untuk Nabi dan umatnya kecuali ada dalil yang secara jelas menunjukan khusus Nabi Muhammad seperti firmannya

خالصة لك من دون المؤمنين

ومن الليل فتهجد به نافلة لك

Dalam ayat ini Allah menegaskan perintah menghadap qiblat untuk  semua orang mukmin setelah memerintahkannya kepada Nabi orang mukmin tujuan penyebutan khitab orang mukmin setelah di khitabnya Nabi agar kemauam mereka menjadi kuat dan hati mereka menjadi tenang setelah mereka mendapatkan fitnah dari kalanga orang munafik ,ahli kitab dan orang yahudi denga kemauan yang murni dan keteguhan hati untuk mengikuti nab Muhammad SAW.

IV. Tidak memperpanjang pembahasan pada ayat-ayat yang dimubhamkan al-Quran

Al-Maraghi selalu tidak memperpanjang pembahasan tentang sesuatu yang samar baik yang bersifat materi dan yang bersifat non materi contohnya ketikan menafsirkan ayat:

وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والأرض أعدت للمتقين

Al-Maraghi mengatakan:

والأية تدل مظارها على ان الجنة مخلوخة الان لأن الفعل الماضى بفهم هذا غير أنه من الجاز ان يكون من قبل قوله تعالى {ونفخف الصور فصعق من فى السموات ومن فى الأرض}فلا يدل على خلقها الان والبخث فى هذا لا فادة له ولا طائل تحته

Ayat ini secara dzahir menjelaskan bahwasannya surga itu sekarang telah diciptakan karena fi’il madhi yang digunakan dalam ayat ini bisa difahami begitu, tetapi dalam ayat lain seperti ayat:

ونفخف الصور فصعق من فى السموات ومن فى الأرض

Tidak menunjukan telah diciptakannya surga sekarang dan membahas lebih detai hal-hal seperti ini tidak ada faidahnya.

V. Tafsir ilmi pengetahuan modern

Al-Maraghi tidak menganjurkan ulama untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran dengan penemuan-penemuan modern sebagai refrensi utama, tetapi menganjurkan mereka untuk mengetahui dan menukilnya hanya sebatas untuk menunjukan kebesaran kekuasaan Allah saja, sebagai mana yang dikatakannya:

وجد الخلاف بين المسلمين فى العقائد والاحكام الفقهية ووجد هم مرض اخر هو الغرور بالفلبسفة وتأويل القران ليرجع اليها وتأويله من النظريات العلمية التى لم يقر قرارها وذالك خطر عظيم على الكتاب للفلايفة أو هاما لا تزيد على خذيان المصاب بالحمى والنظريات التى تستقر لا يصح ان يرد اليها كتاب الله

Telah banyak ditemukan banyak perbedaan dikalangan umat muslim tentang masalah hukum dan akidah dan hukum-hukum fikih dan telah ditemukan penyakit lain yaitu tertipu denga filsafat dan mentakwilkan Quran disesuaikan dengan penemuan ilmiah yang belum ada kejelasan tentang kebenarannya dan hal ini merupakan bahaya yang besar bagi al-Quran, dan pnemuan-penemuan yang belum diyakini kebenarannya tidak sah dikatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat itu adalah penemuan tersebut.

VI. Tafsir yang rasionaL

VII. Mengingkari riwayat israiliat

Al-Maraghi sangat ingkar sekali terhadap riwayat-riwayat israiliat dan sangat menentang para mufassir yang menggunakan dan menukil riwayat-riwayat al-Quran dalam menafsirkan al-Quran sebagaimana yang ia katakan dalam muqaddimah tafsirnya:

اشار الكتاب الكريم الى كثير من تاريخ الامم الغارة التى حل بها العذاب على ما اجترحت من الاثام والى بدء الخلق وتكوين الارض والسموات ولم يكن لدى العرب من المعرفة ما يستطيعون به شرح هذه المجلات التى اشار اليها الكتاب اذ كانوا أمة أمية فى صحراء نائبة عن مناهل العلم والمعرفة الوالانسان بطبيعة حريص على استكناه المجهول واستيضاح ما عزت عليه معرفه فالجأتهم الحاجة الى الاستفسار من اهل الكتاب من اليهود والنصارى ولا سيما مسلمتهم كعبد الله بن سلام وكعب الاحبار ووهب بن منبه فقصوا عليهم من القصص ما ظنوه تفسيرا لما خفى عليهم فهمه من كتابهم ولكنهم كانوا فى ذلك كحاطب ليل بجمع بين الشذرة والبعرة الذهب واليبة فساقوا  الى المسلمين من الاراء فى تفسير كتابهم ما ينبذه العقل وينافيه الدين وتكذبه المشاهدة ويبعده كل البعد ما اثبته العلم فى العصور اللاحقة

VIII. Mempersedikit riwayat bil ma’tsur

Dalam muqaddimah tafsirnya al-Maraghi mengatakan:

ومن ثم ألا نذكر رواية مأثورة الا اذا يلقاها العلم القبول ولم نر فيها ما يتنافر مع قضايا الدين التي لا خلاف يها بين اهله وقد وجدنا ان ذلك اسلم لصادق المعرفة واشرف لتفيسر كتاب الله واجذب لقلوب الثقفين ثقافة علمية لا يقنعها الا الدليل والبرهان ونور المعرفة الصادقة

“Oleh karena itu,kami tidak akan menukil sebuah riwayat hadits kecuali kalau kebenarannya telah diyakini dan tidak ada pertentangan dengan pemahaman agama.Hal itu menurut kami lebih selamat dan lebih bijak untuk sebuah penafsiran al-Quran yang mulia dan akan dan akan bisa diterima oleh para pemikir ilmu pengetahuan modern karna kebenarannya sudah bisa dipastikan.[26]

Tentu dengan metodologi yang digunakan al-Maraghi ini akan menimbulkan hal dan nuansa berbeda dalam menafsirkan al-Quran contohnya ketika al-Maraghi menafsirkan kalimat taqwa  dalam Surah Ali Imran ayat 101[27]

ياأيها الذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على اللذين من قبلكم لعلكم تتقون

Menutut al-Maragh kata taqwa mempunyai banyak arti seperti:

Ikhlas

Sebagaimana firman Allah

فإنها من تقوي القلوب

Artinya :”Dan sesungguhnya hal itu merupakan keikhlasan hati”

Sebagaimana yang disabdakan Nabi:

من احب ان يكون اكرم الناس ليتق الله

“Barangsiapa yang ingin menjadi orang yang dimulyakan manusia maka ikhlaskanlah hati kepada Allah”

لا يبلغ العبد المتقين حتي يدع ما لا باس به حذرا مما به باس

“Seorang hamba tidak akan mencapai derajat orang muttaqin (ikhlas), sehingga ia bisa meninggalkan apa yang dicegah padahal tidak dilarang”

Ta’at

ان انذروا أنه لا إله إلا أنا فاتقون

“Berilah peringatan kepada mereka bahwasannya tiada Tuhan selain Aku dan bertaqwalah”

Iman

فأنه من تقوي القلوب

“Sesungguhnya hal itu adalah merupakan bagian dari hati yang iman”

Mengingkari taqlid

Dalam menafsirkan al-Quran al-Maraghi tidak terpaku pada satu madzhab, tapi beliau berijtihad sendiri dan mengacu pada kebebasan berfikir. Jelasnya ketika al-Maraghi menafsirkan surah al-Baqarah ayat 170

وإذا قيل لهم اتبعوا ما أنزل الله قالوا بل نتبع ألفينا عليه ابائنا…الاية

Artinya: Dan apabila dikatakan kepada mereka ikutilah terhadap apa yang telah dirutunkan oleh Allah mereka berkata”kami mengikuti apa yang telah digariskan oleh nenek moyang kita”.

وفى هذه الاية ارشاد الى منع التقليد لمن قدر على الاجتهاد فاذا اتبع المرئ غيره فى الدين ممن علم انه على حق كالانبياء والمجتهدين _فهذا ليس بتقليد_بل اتباع لما انزل الله

“Ayat ini menerangkan terhadap larangan bagi orang yang mampu berijtihad untuk taqlid dan apabila seseorang yang merasa mampu berijtihad tetapi dia masih mengikuti pendapat orang lain ini bukan dinamakan taqlid, tetapi merupakan perintah Allah yang menyuruh seseorang untuk bertanya kepada yang lebih alim”.

Islah ijtima’i

Al-Maraghi mempunyai perhatian khusus masalah kemaslahatan umat dan persatuan umat islam dalam penafsiran al-Quran karena memandang bahwa al-Quran adalah kitab suci yang menjadi pedoman yang utama dalam membentuk dan membangun karakter masyarakat madani. Selain perhatiannya dalam membangun masyarakat islam yang madani al-Maraghi juga mempunyai perhatian khusus dalam persatuan umat islam sebagaimana yang dilakukan oleh Jamaluddin al-Afgani dengan “panji islam”nya. Hal ini dapat kita lihat misalnya ketika al-Maraghi menafsirkan Surah al-Anfal ayat 25:

والتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا خاصة واعلموا أن الله شدسد العقاب

Artinya ;

“Al-Maraghi mengatakan dalam tafsirnya:fitnah yang paling besar yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah fitnah matrealiasitik dan fitnah fanatic golongan yang mewabah di dalam umat islam, Allah SWT menuntut orang islam untuk menghindari hal semacam ini,khususnya terhadap sesusatu yang menyebabkan perpecahan di dalam tubuh umat islam,karna perpecahan itu menyebabkan melemahnya kekuatan umat sehingga memudahkan musuh untuk menghancurkan umat islam baik dari dalam maupun dari luar.”[28]


[1] Sebuah desa yang terletak di pinggiran Sungai Nil, kira-kira 70 KM arah Selatan Kota Kairo, Mesir

[2] Ada yang berpendapat bahwa beliau lahir pada tahun 1300H/1883 M.lihat Saiful Amin Ghafur,Profil Para Mufasir Al-Quran,(Jogjakarta:Insan Madani) h, 151

[3] Saiful Amin,h.152

[4] Muhammad Husain adz-Zahabi,at-Tafsir wa al-Mufasirun,(Qahirah:Maktabah Wahbah)v.2,h.366

[5] Adz-Zahabi,h.434

[6] Adz-zhabi,h.436

[7] Saiful Amin,h.154

[8] Ahmad Mustafa al-Maraghi,Tafsir al-Maraghi,(Bairut:Dar al-Kutub al-Islamiah),H.12-13

[9]Saiful Amin,154

[10] Adz-Zahabi,H.437

[11] Muhammad Rasyid Ridha,Tafsir al-Quran al-Hakim al-Syahir bi al-Tafsir al-Manar,(Bairut: Dar al-Fikir),h.11

[12] Ahmad Mustafa al-Maraghi,h.12

[13] Ahmad Mustafa al-Maraghi,h.12

[14] Muhammad Abduh,h.11

[15] Ahmad Mustafa al-Maraghi,h.19

[16] Ibnu mandzur,lisan al-arab,(pustaka:Qahirah:dar al-hadits),v.9,h.236

[17] Asma binti umar hasan fasdak,manhaj sayyi qutb fi dzilal al-Quran, desertasi,Saudi:jami’ah ummur qura,v.1,h.209

[18] Lisanul A’rab,v.9,h.328

[19] Asma binti Umar Hasan Fasdak,v.1,h.210

[20]Asma binti Umar Hasan Fasdak,h.211

[21] Badruddin Muhammad bin Abdullah al-zarkasyi,al-burhan fi ulum al-Quran,Qahirah dar  al-hadits,hal36-40

[22] Fahd bin Abdurrahman bin sulaiman ar-rumi,manhaj al-madrasah al-aqliyah al-haditsah fi at-tafsir,riyadh:idarah al-buhuts  al-ilmiyah wa al-ifta wa ad-da’wah wa al-ir,h.409

[23] Ahmad Mustafa al-Maraghi,juz 1,h.493

[24] Muhammad Abduh,Tafsir al-Manar,juz 3,h.204

[25] Muhammad Abduh,H.14

[26] Ahmad Mustafa al-Maraghi,Juz.1,H.19

[27] Ahmad Mustafa al-Maraghi,Juz 1,H.450

[28] Pengajian Syaikh Mustafa al-Maraghi pada tahun 1357,(lihat Fahd Bin Abdurrahman Bin Sulaiman Ar-Rumi,H.386)

*Penulis: Fathul Mujib, Sholahuddin al-Ayyubi, Nur Hasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s