Aisyah Bint al-Syati’

Al-Tafsir al-Bayani Li al-Qur’an al-Karim merupakan tafsir kontemporer karya monumental Dr. ‘Aisyah Abd al-Rahman Bint al-Syati’ yang dikenal dengan panggilan Bint al-Syati’, telah mengisi khazanah corak dan metode penafsiran al-Qur’an yang patut dipertimbangkan untuk dikaji dalam penerapan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah yang telah diletakkan olehnya.Seperti yang diakui penulinya sendiri bahwa lahirnya tafsir ini didorong oleh sebuah semangat pembaharuan metodologi tafsir yang ketika itu masih mengikuti tradisi klasik dengan tanpa mengkritisiterlebih dahulu atas penafsir-penafsir yang telah disajikan para mufassir.

1.  Biografi Aisyah Bint al-Shati

Aisha Abdul al-Rahman, yang dikenal dengan Bint al-Shati, dilahirkan pada 6 Nopember 1913di Dumyat sebuah keluarga religius dan konservatif. Ayahnya mengirimnya ke kuttab[1] sebuah sekolah al-Qur’anuntuk mempelajari Qur’an,dengan bantuan ibunya Bint al-Shati mampu melanjutkan pendidikannya,dia menerima gelar B.A. dalam Bahasa Arab dan Sastra dari Universitas Kairo Mesir. Dia mendapat gelar Ph.D di bidang yang sama di bawah pengawasan Hussein Tahayang terkenal pada tahun 1950.Bint al-Shati menduduki jabatan akademik di Mesir,dia adalah Ketua Departemen Studi Arab dan Islam di Universitas Ain Shams, inspektur akademik untuk Departemen Pendidikan Mesir, dan profesor tamu di universitas-universitas Arab antara lain Universitas Khartoum di Sudan dan Qarawiyyin University di Maroko, Dia juga mengajar di Suriah, Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab.Aisha Abdul al-Rahman mulai menulis artikel untuk majalah wanita Mesir, Ketika ia memulai penerbitan di jurnal dan beredar luas dan surat kabar harian pada tahun 1933, dia mengadopsi nama penanya Binti al-Shati (“putri tepi sungai/pantai”) untuk menyembunyikan identitasnya dari ayahnya, seorang sarjana terkenal religius pada waktu itu yang bernama Syaikh Mohammad Ali Abdul al-Rahman. Ayahnya, menebak nama penanya – yang mengacu pada tempat kelahirannya di Dumyat, di mana air sungai Nil dan Mediterania bertemu – dan mengakui gayanya, mendorongnya kemudian untuk terus menulis. Selain menulis dalam jurnal akademik dan ilmiah, ia menulis untuk surat kabar bergengsi al-Ahram sampai kematiannya.Seorang penulis yang produktif, Bint al-Shati memiliki lebih dari empat puluh buku dan seratus artikel. Meskipun ia menerbitkan beberapa fiksi dan puisi, dia terkenal karena studinya yang berkenaan dengan tema-tema sosial, sastra, dan Islam. Pertamanya dua buku, yang muncul pada tahun 1936 dan 1938, berurusan dengan kesulitan yang dihadapi petani Mesir. Buku-buku lainnya berurusan dengan sastra Arab (1961), kontemporer Arab perempuan penyair (1963), Abu al-Ala al-Ma’arri (1968 dan 1972), dan pembacaan baru Risalat al-Ghufran (1972).

Bint al-Shati adalah pembela keras dari hak-hak perempuan. Beberapa judul artikelnya membuktikan lingkup luas pengetahuan dan bunga, yakni: “The (woman) Loser”, “The Lost Woman”, “The (woman)stranger”, “The Rebellious”, “The Dreamer”, “The Innocent”, “The Sad,” “How Do Our (male) Literary Figures View Women?”, “The Image of Women in our Literature”, “We Are No More Evil than Men”, dan “Will a Women ecome a Shaykh in al-Azhar?”,pada tahun 1942 novelnya Master of the Estate menggambarkan gadis petani yang menjadi korban dari masyarakat patriarki dan feodal.

Bint al-Shati sangat unggul, bagaimanapun dalam bidang studi al-Qur’an dimana ia terbitkan lebih dari lima belas buku termasuk di dalamnya buku yang berjudul “The Immutability of The Qur’an (1971),With the Chosen (1972), The Qur’an and Issues of Human Condition (1972), dan Islamic Character (1973). Dia juga menerbitkan biografi perempuan-perempuan muslim meliputi: The Mother of the Prophet (1966), The Wives of the Prophet (1959), dan The Daugthers of the Prophet (1963).[2]

2.  Syaikh Amin al-Khuli

Eksistensi dari corak pemikiran Amin al-Khulli menjadikan preferensi Aisyah Bint al-Shati di dalam menjelaskan atau menggunakan metode Amin al-Khulli di dalam tafsirnya. Dia lahir pada awal bulan Mei 1895, pada usia tujuh tahun Amin tinggal bersama pamannya dan di gembleng dangan pendidikan agama yang sangat ketat seperti menghafal al-Qur’an, menghafal tajwidalTuhfahdan alJazariah, fiqh, dan nahwu. Pembaharuan tafsir dimulai dari apa yang dilakukan oleh Syaikh Amin al-Khulli, dia adalah salah seorang generasi awal pembaru Islam pada tahun 30-an dan 40-an abad lampau bersama Thaha Husein, Manshur Fahmi dan Ahmad Amin. Pada umur 15 tahun ia berhasil menamatkan jenjang Ibtidaiyah dan Aliyah dengan hasil yang sangat memuaskan. Dia menamatkan sekolahnya di tahun 1920, dan mengajar di tempat yang sama pada tanggal 10 Mei 1920. Pada 7 November tahun 1923 Dekrit Kerajaan menetapkan beberapa orang imam bagi Kedutaan Mesir di London, Paris, Washington dan Roma, Syaikh Amin al-Khulli dikala itu mendapatkan kesempatan untuk menjadi imam Kedutaan Mesir di Roma dengan kapal yang berlayar dari Alexandaria dan sampai di Itali dengan membutuhkan waktu tiga hari.Di Italia dia tinggal selama dua tahun sampai dirinya benar-benar menguasai bahasa Italia dan membaca atau mengamati keagamaan, kebudayaan, karya-karya para orientalis Eropa. Karirnya berlanjut menjadi delegasi Mesir di Berlin sejak awal Januari 1926. Dua bahasa Itali dan Jerman menjadikan dirinya mampu menguasai – untuk tidak mengataka komprehensif – berbagai karya-karya yang berbahasa Eropa.

Beberapa selang kemudian karir imam dan negosiator dihilangkan dari Kedutaan Mesir berlaku mulai tahun 1927, dan Amin al-Khulli kembali ke Mesir. Pada saat itu mulailah dia berkarya di Madrasah Peradilan Agama sejak 19 Maret 1927, belum tuntas dia berkarir dan menuangkan berbagai ide-idenya Madrasah Peradilan Agama menutup karirnya dan dia pindah ke bagian bahasa Arab fakultas Adab di Universitas Mesir, terhitung sejak 3 November pada tahun 1927. Berkiprah dengan menjadi tenaga pengajar dan sampai menjadi dosen pada jurusa sastra Arab sejak 17 Februari 1942. Pada tanggal 19 Oktober 1946 dia dipindahkan jabatannya menjadi penanggung jawab sastra Arab dalam fase Islam. Karirnya naik terus sehingga ia menjadi dekan pada fakultas Adab pada 13 Mei 1946. Tahun 12 juni tahun 1953 ia pindah menjadi penasihat Darul Kutub dan menjadi Direktur Umum Kebudayaan Mesir, dia mengakhiri karir kepemerintahan pada awal Mei 1955.

Bermodalkan pengetahun yang luas akibat sayembara dirinya ke berbagai seantero dunia membuat ia terpikirkan dan fokus untuk lebih menekankan pada pendekatan tafsir al-Qur’an dengan penekanan aspek psikologis. Ia pernah berkata: “Gagasan yang paling tepat dalam mentafsirkan al-Qur’an adalah menafsirkan al-Qur’an secara tema per-tema bukan dengan susunan surat atau ayat sebagaimana yang ada di dalam al-Qur’an”. Sesungguhnya dari pembicaraannya diatas mengesankan bahwa dirinya sebenarnya berobsesi membangun sebuah metodelogi yang disebut Metodelogi Penafsiran Sastra. Sumbangan yang dihasilkan oleh tafsir tematik adalah upaya mengetahui wawasan global al-Qur’an beserta konsep al-Qur’an. Sebenarnya ulama klasik telah menggunakan metodelogi tematik namun belum terkonsepkan secara matang dan membuat Amin al-Khulli bergegas membuat konsepnya.

Jika konsepnya diterapkan maka akan menghabiskan waktu, oleh karena itu ia memfokuskan pada bagian sastrawi dan psikologi al-Qur’an dan selanjutnya adalah murid-muridnya. Dr. Muhammad Syukri Iyad misalnya membahas tema “Hari Akhir Dalam al-Qur’an” dan lain sebagainya. Persoalan yang penting juga dalam metodeloginya adalah tertib sejarah.[3] Setelah mengecam berbagai aktifitas intelektual maupun sosial politik dengan penuh semanggat dan tanggung jawab demi kemajuan agama, negara dan bangsa dengan segala suka yang mana kesemuanya kental dengan nuansa seni-seni dan sastra, sehingga pada akhirnya yakni bertepatan pada hari Rabu tanggal 6 Maret 1966 dalam usia yang ke 71 tahun sang Pendekar Sastra dan Penbaharu ini meninggal.

3.   Karya-Karya Aisyah Bint al-Shati

Karya-karya Aisyah Bint al-Shati meliputi sebagai berikut:

  1. Abu al-‘Ala al-Ma’ari, al-Khansa’ dan penyair-penyair lain seperti: al-Hayah al-Insaniyyah ‘Inda Abi al-A‘la yang merupakan tesis yang ditulisnya untuk mendapat gelar Master di Universitas Fuad I Kairo pada tahun 1941
  2. al-Gufrān li Abū al-A‘la al-Ma’āri yang merupakan disertasi yang ditulisnya untuk mendapat gelar Doktor di Universitas Fuad I Kairo pada tahun 1950
  3.  Ard al-Mu’jizat
  4. Rihlah fi Jazirah al-‘Arab (1956)
  5. Umm al-Nabiy (1961)
  6. Sukainah bint al-Husain (1965)
  7. Batalat al-Karbala’ (1965)
  8. Ma‘a al-Mustafa(1969)
  9. Al-Tafsīr al-Bayāni lil Qur’ān al-Karīm jilid I (1962)
  10. Manhaj al-Tafasir al-Bayani (1963)
  11. Banat al-Nabiy (1963)
  12. Muskilatu al-Taradufu al-Lughowi (1964)
  13. Kitab al-‘Arabiyah al-Akbar (1965)
  14. Tafsir Surat al-‘Asr (1965)
  15. Al-Qur’an Wa Hurriya al-Iradah (1965)
  16. Kitābunā al-Akbar (1967)
  17. Al-Mafhūm al-Islāmiy li Tahrīr Al-Mar’ah (1967)
  18. Qodhiyah al-I’jaz (1968)
  19. Turasunā Baina Mādin wa Hādirin (1968)
  20. Jadid Min al-Dirasah al-Qur’aniyah (1968)
  21. A‘dā’ al-Basyar (1968)
  22. AlAb‘ad al-Tārīkhiyyah wa al-Fikriyyah li Ma’rakatina (1968)
  23. Ijāz al-Bayāni al-Qur’ān (1968)
  24. Lugatuna wa al-Hayāh (1969)
  25. Manhaj al-Dirasah al-Qur’aniyah (1969)
  26. Al-Tafsīr al-Bayāni lil Qur’an al-Karīm Jilid II(1969)
  27. Maqāl fi al-Insān: Dirāsah Qur’āniyyah (1969)
  28. Al-Qur’ān wa al-Tafsīr al-‘Asri (1970)
  29. Al-Qur’an Wa Huququ al-Insan (1971)
  30. Min Asrari al-Arabiyah Fi al-Bayani al-Qur’aniyah (1972)
  31. Al-Israiliyyat Wa al-Tafasir (1972)
  32. Al-Syakhsiyyah al-Islāmiyyah: Dirāsah Qur’āniyyah (1973)
  33. Baina al-‘Aqidah wa al-Ikhtiyar (1973).
  34. Nisa’ al-Nabiy (1973)
  35. Al-Qur’an Wa al-Fikr al-Islami al-Ma’ashir (1975)
  36. ‘Alā al-Jisr: Ustūrah al-Zaman
  37. Tarajum Sayyidat Bait al-Nubuwah Radiyallah ‘Anhunna (1987).

4.    Karirnya Aisyah Bint al-Shati

Bint al-Shati memegang berbagai jabatan akademik di Mesir. Dia pernah mengepalai Departement Bahasa Arab dan Islamic Study untuk universitas ‘Ain Shams, sebagai inspektur akademik di Departemen Pendidikan Mesir pada tahun 1942, guru besar tamu di beberapa universitas Arab seperti Universitas Khartoum, Sudan dan Universitas Qarawiyyin, Maroko. Dia juga mengajar di Aram, Saudi Arabia, Iraq, dan United Emirat Arab.

Tentang karir penulisannya, Aisya Abd al-Rahman mulai menulis artikel-artikel untuk majalah-majalah perempuan Mesir di akhir 1932. Ketika dia mulai menerbitkan dalam jurnal-jurnal dan surat kabar harian yang beredar luas di tahun 1933, dia memakai nama samaran Bint al-Shati (“putri pantai”) untuk menyembunyikan identitasnya agar tidak diketahui oleh ayahnya, Syaikh Mohammad Ali Abd al-Rahman, seorang ulama dan akademisi yang religius dan terkenal pada waktu itu, tapi ayahnya, dapat menerka nama samaran itu –yang mengisyaratkan tempat kelahirannya, Dumyat, tempat di mana aliran sungai Nil dan Mediterania bertemu, di samping itu dia mengenali gaya tulisannya. Namun ayahnya kemudian mendorong untuk tetap menulis, bahkan untuk jurnal-jurnal ilmiah dan akademis. Dia juga menulis untuk surat kabar al-Ahram yang bergengsi sampai kematiannya.

5.    Wafatnya Aisyah Bint al-Shati

Pada awal bulan Desember tahun 1998 di usianya yang mencapai 85, Bintu Syati’ menghembuskan nafas terakhirnya. Tulisan terakhir yang sempat diterbitkan oleh koran Ahram berjudul “Ali bin Abi Thalib Karramllahu Wajhah” tanggal 26 Februari 1998. Seluruh karyanya menjadi saksi akan kehebatan beliau. Metode tafsir yang beliau kembangkan dalam bukunya “at Tafsir al Bayani Lil Qur’an al Karim” banyak menjadi rujukan metode penafsiran kontemporer.

Pendekatan Metodologi Yang Digunakan Dalam Tafsir Al-Bayan Berikut Corak Penafsiran

I. Metode Penafsiran Aisyah Bint al-Shati

Pada kata pengantar kitab al-Tafsir al-Bayani li al-Quran, Bint Syathi menjelaskan bahwa apa yang ditulis dalam karyanya tersebut mengikuti standarisasi metode yang sudah di tetapkan oleh Dosen sekaligus Suami tercintanya, Amin al-Kulli. Perlu diketahui, gagasan Amin al-Kulli adalah menciptakan paradigma baru mengenai al-Qur’an, yaitu menjadikan metode sastra sebagai titik tolak kajian khusus lainnya. Metode sastra yang dimaksud adalah pengkajian al-Qur’an dengan dua tahap:

  1. Dirasah Min a Haula al-Nass (Kajian seputar al-Quran) Kajian tersebut meliputi kajian khusus dan kajian umum. Kajian khusus adalah kajian ulum al-Quran. Sedangkan kajian umum adalah kajian konteks/situasi, material dan immaterial lingkungan Arab.
  2. Dirasah ma fi al-Nass (kajian tentang al-Quran itu sendiri) Kajian ini bermaksud untuk mencari makna etimologis, terminologis. Semantic yang stabil dalam sirkulasi kosakata dan makna semantic dalam satu ayat yang ditafsirkan.

Berangkat dari metode yang ditawarkan oleh Amin al-Kulli tersebut, Bint Syathi kemudian menetapkan metode penafsirannya sebagai berikut.

Bintu Syathi sangat terpengaruh gaya sang guru yang juga pendamping hidupnya, Amin al-Khulli. Karakteristik khusus yang membedakan cara pandang Bint al-Shati’ dengan mufasir lainnya adalah bahwa dia lebih menonjolkan segi sastra. Pendekatan yang beliau pakai yaitu dengan menggunakan metode semantik, metode yang berbasis pada analisa teks. Metode penafsiran yang digunakan Bint al-Shati’ dalam menafsirkan ayat al-Qur’an yaitu metode yang biasa disebut sebagai metode munasabah, yaitu metode yang mengkaitkan kata atau ayat dengan kata ayat yang ada di dekatnya dan bahkan ayat yang berjauhan. Langkah pertamanya yaitu dengan mengumpulkan kata dan penggunaannya dalam beberapa ayat al-Qur’an untuk mengetahui penjelasan apa saja yang terkait dengan sebuah kata yang ditafsirkan atau diberi penjelasan. Secara garis besar metodologi kajian ini disimpulkan dalam empat pokok pikiran.

Pertama: mengumpulkan unsur- unsur tematik secara keseluruhan yang ada di beberapa surat. Untuk dipelajari secara tematik. Dalam tafsir ini beliau tidak memakai metode kajian tematik murni seperti itu. Namun dengan pengembangan induktif (istiqra’i). Mula- mula beliau gambarkan  ruh sastra tematik secara umum. Kemudian merincinya per-ayat. Akan tetapi perincian ini berbeda dengan perincian yang digunakan dalam kajian tafsir tahlily (analitik) yang cenderung menggunakan maqtha’ (pemberhentian tematik dalam satu surat). Di sini beliau membuka dengan kupasan bahasa dalam ayat itu kemudian dibandingkan dengan berbagai ayat yang memiliki kesamaan gaya bahasa. Kadang menyebut jumlah kata, adakalanya memberikan kesamaan dan perbedaan dalam penggnaannya, terakhir beliau simpulkan korelasi antara gaya bahasa tersebut.

Kedua: memahami beberapa hal di sekitar nash yang ada. Seperti mengkaji ayat sesuai turunnya. Untuk mengetahui kondisi waktu dan lingkungan diturunkannya ayat- ayat al-Qur’an pada waktu itu. Dikorelasikan dengan studi asbab al-Nuzul. Meskipun beliau tetap menegaskan kaidah al-Ibrah Bi ’Umum al-Lafadz La Bi al-Khusus al-Sabab (kesimpulan yang diambil menggunakan keumuman lafadz bukan dengan kekhususan sebab- sebab turun ayat).

Ketiga: memahami dalalah al-Lafadz. Maksudnya, indikasi makna yang terkandung dalam lafadz-lafadz al-Qur’an, apakah dipahami sebagaimana dhahirnya ataukah mengandung arti majaz dengan berbagai macam klasifikasinya. Kemudian di tadabburi dengan hubungan-hubungan kalimat khusus dalam satu surat. Setelah itu mengkorelasikannya dengan hubungan kalimat secara umum dalam al-Qur’an.

Keempat: memahami rahasia ta’bir dalam al-Qur’an. Hal ini sebagai klimaks  kajian sastra, dengan mengungkap keindahan, pemilihan kata, beberapa pentakwilan yang ada di beberapa buku tafsir yang mu’tamad tanpa mengkesampingkan kajian gramatikal arab (i’rab) dan kajian balaghahnya.[4]

Sastra tematik yang dimaksud di sini adalah corak tafsir kontekstual yang menganut madzhab dan aliran tematik umum (maudhu’i ‘am). Pengkajiannya dikhususkan pada pembahasan sastra bahasa dalam satu surat. Beliau tidak mengambil seluruh surat dalam al-Qur’an. Namun, beberapa surat pendek saja di juz amma pada buku pertama: Adh-Dluha, Asy-Syarh, Az- Zalzalah, Al-Adiyat, An-Nazi’at, Al-Balad, dan At-Takatsur. Dan tujuh surat pendek lainnya pada buku kedua: Al-‘Alaq, Al-Qalam, Al-‘Ashr, Al-Lail, Al-Fajr, Al-humazah, dan Al-Ma’un.

II.  Corak Penafsiran

Tafsir al-Qur’an merupakan ilmu yang sangat penting dalam litelatur Islam. Karena dari sinilah sebuah teks yang tidak bernyawa akan berbicara dan memposisikan dirinya sebagai kitab petunjuk. Pesan yang disampaikan dalam al-Qur’an akan menjadi sebuah hal yang sangat relatif ketika diintepretasikan oleh beberapa corak pemikiran yang berbeda. Seiiring dengan berkembangnya zaman dan semakin luasnya ilmu yang dikuasai umat Islam, maka hal ini menyebabkan pergeseran metodologi dalam intepretasi al-Qur’an. Para ulama zaman dahulu mengklasifikasikan metode tafsir secara global menjadi 2 macam, yaitu;

  1. Tafsir bil ma’tsur (analisa teks Al Qur’an dengan berpedoman pada teks lain, Al Qur’an dan Hadits. Corak metode tafsir seperti ini banyak kita dapatkan dalam tafsir Thabary.
  2. Tafsir bi ra’yi (analisa teks dengan berpedoman pada akal). Corak metode ini banyak kita dapati dalam tafsir Al Kasyyâf, Mafâtihul Ghaib, Al Mannâr.

Penggolongan metode tafsir menjadi 2 tersebut saat ini dipandang kurang relevan dan terkesan kaku. Maka dari itu para pakar tafsir kontemporer mencoba mencari alternatif lain yang lebih simpel dan sistematis. Dr. Abdul Jabar Ar Rifa’i, menyebutkan ada 4 teori dalam studi tafsir kontemporer:

Tafsir ‘Ilmi (analisa ilmiah terhadap ayat-ayat yang terkandung dalam Al Qur’an dengan menghubungkan dengan fenomena alam yang terjadi). Contoh; Tafsir Jawâhirul Qur’an milik Imam Ghazali, al Burhân Fi Ulûmil Qur’an milik Zarkasyi.

Tafsir Madhu’i (analisa sebuah teks dengan menghimpun satu kesatuan tema didalamnya). Contoh; Ad Dustûr Al Qur’ani Fi Syu’ûnil Hayât milik Muhammad ‘Izzat Darwizah, Tafsir Ayat Riba milik Sayyid Qutb, Al Qur’an Wal Mujtama’ milik Mahmud Syaltut.

Tafsir Ijtimâi (analisa teks dengan pendekatan sosiologi dan fakta sosial yang terjadi). Contoh; Tahrîr Wa Tanwîr milik Thahir Ibnu ‘Asyur, Tafhîmul Qur’an milik Abu A’la al Maududi.

Tafsir Adabi (analisa teks dengan mengungkap sisi sastra yang terkandung didalamnya. Metode ini lebih cenderung kepada metode kritis dalam memahami Al Qur’an) Contohnya; Tafsir Bayani Lil Qur’anil Karim milik Aisyah Abdurrahman atau Bint al-Shati’. Tafsir Adabi (tafsir sastra) yang barang kali akhir-akhir ini banyak digandrungi oleh banyak orang. Basis metode ini mulai diperkenalkan Amin Khuli, seorang intelektual Mesir dan dosen adab di Universitas Cairo. Sosok inilah yang dikenal kuat mempengaruhi corak penafsiran generasi selanjutnya, seperti Ahmad Khalfallah, Nasr Hamid Abu Zayd, Aisyah Abdurrahman atau Bint Shati’. Dari ketiga penerus beliau ini, Bint Shati’-lah yang pemikirannya secara luar dikonsumsi publik. Selain berbasis metode analisa teks, Bint Shati’ dikenal sangat memperhatikan sisi normatif dan tidak terlepas dari sisi ilmiah.

III.  Keistimewaan Dan Kelemahan Tafsir al-Bayani

Dalam kaitannya mempelajari, memahami dan mengkaji al-Qur’an, kita mengenal ada empat  metode tafsir,[5] meliputi metode tahlili, ijmal, maudhu’i,dan muqaran. Namun dari keempat metode diatas yang paling populer digunakan dalam menafsirkan adalah metode tahlili[6] dan maudhu’i..[7] Namun saat ini telah banyak metode yang ditawarkan oleh berbagai mufasir, kesemuan itu merupakan perangkat pendukung untuk memahami makna-makna yang terkandung dalam teks-teks al-Qur’an. Selain itu, karena alasan bahwa bahasa adalah bentuk pemikiran, sedangkan makna adalah kandungannya, adapun realitas eksternal merupakan rujukan maknanya.

Ketika kita berbicara kelemahan yang terdapat dalam Tafsir al-Bayan khususnya pada langkah ketiga, jika pemahaman lafaz al-Qur’an harus dikaji lewat pemahaman Bahasa Arab yang merupakan bahasa “induknya”, padahal kenyataannya, tidak sedikit istilah dalam syair dan prosa Arab masa itu tidak dipakai oleh al-Qur’an, maka itu berarti membuka peluang dan menggiring masuknya unsur-unsur tafsiran asing ke dalam pemahaman al-Qur’an; sesuatu yang sangat dihindari oleh Bint al-Syathi sendiri.

Bint al-Shati’ kurang konsisten dengan metode penafsiran yang ditawarkan, yakni mengkaji tema tertentu, melainkan lebih pada analisis semantik. Kenyataannya, ketika Bint al-Syathi menafsirkan ayat-ayat pendek, ia mengumpulkan lafazh-lafazh yang serupa dengan lafaz yang ditafsirkan, kemudian menganalisis dari sisi bahasa (semantik). Hal ini tampak pada penafsirannya pada surat al-Zalzalah, ia mengumpulkan semua derivasi dari kata al-zilzal, tapi bukan untuk dicari maknanya secara lebih utuh dan komprehensif, melainkan lebih pada analisis semantiknya, untuk mendukung gagasan yang dilontarkan.

Di sinilah Bint al-Shati’ banyak menuai kritik karena tidak konsisten dengan metode yang dikemukakannya. Dengan demikian, meskipun metode tematik yang ditawarkan sangat bagus dan kompleks, ia tidak dianggap sebagai pencetus metode tematik.

IV.   Contoh Penafsiran Aisyah Bint al-Shati

Mengenai sumpah-sumpah yang terdapat di dalam al-Qur’an yang diawali dengan waw al-Qasam – Bint al-Syati’ menolak pendapat bahwa semua itu – seperti kebanyakan kitab tafsir – menandakan pemuliaan obyek sumpah. Bint al-Syati’ meyakini bahwa sumpah Qur’ani adalah hanya salah satu alat retoris yang digunakan untuk menarik perhatian terhadap suatu hal lewat fenomena nyata untuk memperkenalkan hal-hal lain yang tak terjangkau oleh akal. Oleh karena itu pilihan objek sumpah dalam al-Qur’an sesuai dengan situasi dan kondisi. Bint al-Syati’ memberikan gambaran dari berbagai surah-surah yang dipilihnya sebagai objek seperti ketika Allah bersumpah demi waktu pada surah al-‘Asr, duha, demi siang, demi waktu malam, dan lain sebagainya. Ia menjelaskan bahwa waktu pagi dan siang adalah merepresentasikan makna petunjuk (hidayah) dan kebenaran (al-Haq). Sedangkan malam merepresentasikan makna kesalahan dan dusta.

Seseorang dapat terpukau terpesona ketika mendengar alunan ayat-ayat al-Qur’an. Seperti yang digambarkan oleh cendikiawan Inggris, Marmaduke Pickthall dalam The Meaning of Gloriuos Qur’an: “al-Qur’an mempunyai simfoni yang tidak ada taranya di mana setiap nada-nadanya bisa menggerakkan manusia untuk menangis dan bersuka cita”
Inilah yang dinamakan fawasil yang mengandung sajak dalam al-Qur’an. Mayoritas ulama sependapat bahwa dalam al-Qur’an mengandung sajak. Hanya saja mereka berbeda pendapat apakah al-Qur’an terikat dengan formulasi dan bentuk sajak dengan mengabaikan sisi makna atau sebaliknya, memegang makna dengan mengabaikan sajak. Bint al-Shati’ memposisikan dirinya pada pendapat kedua. Bint al-Shati tatkala menafsirkan surah al-Duha dengan mengabaikannya kata ganti (dhamir) ‘ka’ sebagai objek dari fi’il qala (قلى), menolak argumen prosodik (argumen yang berkaitan dengan hal-hal irama-sajak) sehubungan dengan terabaikannya dhamir ‘ka’. Argumen ini dipegangi oleh al-Naysaburi. Berdasarkan hasil studi Bint al-Shati’ tentang sajak dalam al-Qur’an, dia percaya bahwa tidak ada lafal di dalam al-Qur’an yang ditemui di mana pun hanya karena alasan prosodik. Ia menyarikan pandangannya: “Perihal alasan terabaikannya dhamir ‘ka’ sehubungan dengan adanya kesan harmonisasi fasilah dengan sajak, kita tidak menerima pandangan bahwa retorika Qur’ani didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan verbal. Yang semestinya adalah tunduk dan menyelaraskan pada makna retoris.

Satu hal penting dari penafsiran Bint al-Shati’ pada ayat 8 surah al-Takatsur berkenaan dengan arti dari kata na’im, adalah bahwa dia mempunyai pemahaman yang berbeda dari makna kata na’im. Tidak ada tafsir yang mengomentari pembedaan antara kata-kata na’im, ni’mah (memberkati) atau ni’am (jamak). Berdasarkan penelitiannya pada kata-kata yang terbangun dari huruf ن-ع-م ia menyatakan bahwa al-Qur’an selalu menghubungkan kata naim dengan al-Akhirah atau na’im al-Akhirah, dan tidak pernah menggunakannya dengan kata al-Dunnya. Kata ni’mah atau ni’am (jamak), sebaliknya, digunakan untuk menandai adanya bimbingan. Dan pemberkatan dalam ayat terakhir surah al-Takatsur ini berhubungan dengan na’im al-akhirah.

Dan yang tak kalah penting dari pemikirannya yang Menarik untuk dicatat bahwa Bint al-Shati’ dalam penyelidikannya atas kata aqsama dan halafa, yang secara umum dianggap sebagai sinonim-sinonim oleh kebanyakan penafsiran, menemukan bahwa kata halafa tidak menginfomasikan makna yang sama seperti kata aqsama dalam pemakaian al-Qur’an. Semua derivasi kata halafa yang dia uji, berlaku dalam al-Qur’an dengan makna sumpah yang akan rusak dan dibuat dengan penuh kesadaran, lebih jauh dari itu kata halafa tidak pernah disandarkan pada Allah.

Bint al-Shati’ tidak sependapat dengan al-Razi yang menganggap kata al-Takatsur adalah sinonim dari al-Tafakhur. Dia menunjukkan bahwa al-Takatsur dan al-Tafakhur yang ditempatkan dalam ayat yang sama dan digabung huruf ‘athaf waw dalam surah al-Hadid ayat 20 yang menurut metodenya, ternyata tidak mengindikasikan sinonimitas.


[1]. Dalam sejarah Islam kuttab dibagi menjadi dua bagian; pertama: kuttab berfungsi sebagai tempat pendidikan yang memfokuskan pada tulis baca. Kedua: kuttab tempat pendidikan yang mengajarkan al-Qur’an dan dasar keagamaan. Lihat Samsul Nizar, Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam, 2005, Penerbit: PT. Ciputat Press Group, hal. 7-8.

[2].Lihat Gale Encyclopedia of the Mideast & N. Africa Bint al-Shati: Egyptian scholar and writer, di ambil jam 09.20 am WIB tanggal 17-03-2013 http://www.answers.com/topic/bint-al-shati.

[3]. Jamal al-Banna, Tafsir al-Qur’an al-Karim Baina al-Qudama Wa al-Mutaakhirin, 2003, Penerbit: Dar al-Fikr al-Islami, Hal.197-201. Dan lihat juga Gamal al-Banna, Evolusi Tafsir Dari Jaman Klasik Hingga Jaman Modern, 2005, Penerbit: Qisthi Press Group, 196-202.

[4]. Saiful Bahr, Bintu Syathi’ & aliran sastra tematik, http://saifulesaba.wordpress.com/kajian di ambil jam 10.45 am WIB tanggal 20-03-2013.

[5]. Al-Ashbahani mengatakan bahwa tafsir merupakan hasil karya manusia yang paling mulia. Kemulian sebuah karya adakalanya di lihat dari objeknya, adakalanya dari tujuannya dan adakalanya karena kebutuhan yang mendesak terhadapnya. Hal inilah yang merupakan salah satu ketertarikan Aisyah Bint al-Shati membuat karya tafsir walaupun ia tidak menuntaskan hingga selesai dikarenakan Allah telah memanggilnya.

[6]. Metode Tahlili atau yang dinamai oleh Baqir al-Shadr sebagai metode tajz’iy. Tafsir tahlili adalah menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an dengan meneliti semua aspeknya dan menyingkap seluruh maksudnya, dimulai dari uraian makna kosakata, makna kalimat, maksud setiap ungkapan, kaitan antarpemisah sampai sisi-sisi keterkaitan antarpemisah itu dengan bantuan asbab al-Nuzul, riwayat-riwayat yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw, sahabat,dam tabi’in.

[7]. Metode Maudhu’I adalah menghimpun seluruh ayat al-Qur’an yang memiliki tujuan dan tema yang sama. Setelah itu – kalau mungkin – disusun berdasarkan kronologis turunnya dengan memperhatikan sebab-sebab turunnya. Langkah selanjutnya adalah menguraikannya dengan menjelajahi seluruh aspek yang dapat digali, hasilnya diukur dengan timbangan teori-teori akurat sehingga si mufasir dapat menyajikan tema secara utuh dan sempurna. Lihat Abdul Hayy al-Farmawi,terj. Rosihon Anwar, Metode Tafsir Maudhu’I Dan Cara Penerapannya, 2002, Penerbit: CV Pustaka Setia, hal. 43-44.

*Penulis: Muhammad Makmun Rasyid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s