Wahbah al-Zuhaily

Wahbah bin Musthafa az- Zuhailiy dilahirkan pada 1351 H/1932 M, di daerah Dar ‘Atiyah, Damaskus, Suriah. Ia adalah putra dari syekh Musthafa az- Zuhailiy, seorang petani sederhana yang hafal al-Qur’an.[1] Dengan bimbingan orang tuanya, Wahbah disekolahkan di madrasah ibtidaiyah, hingga selesai jenjang formal berikutnya pada tahun 1946 M. Kemudian ia melanjutkan pendidikanya di fakultas syariah, Universitas Damaskus, hingga pada tahun 1953 berhasil memperoleh gelar sarjana. Artinya gelar tersebut ia peroleh ketika ia berumur 21 tahun. Setelah itu ia memilih meneruskan pendidikanya di Mesir. Ada tiga fakultas yang secara bersamaan dimasukinya. Yaitu fakultas syariah, fakultas bahasa Arab di universitas Al Azhar, dan fakultas hukum di universitas ‘Ain Syams. Pada tahun 1956 ia berhasil memperoleh gelar sarjana dari universitas Al Azhar. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1957 ia memperoleh ijazah Lc dibidang hukum universitas ‘Ain Syams, Mesir. Singkatnya, pada pada tahun 1959 M ia mendapatkan gelar magister syariah dari fakultas hukum, universitas Kairo. Puncaknya pada tahun 1965, saat usianya memasuki 33 tahun ia telah berhasil meraih gelar doktor.[2]

Profil Tafsir

Nama dan Latar Belakang

At Tafsir al-Munir fi al ‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj. Itulah nama kitab tafsir yang disusun oleh syekh Wahbah. Kitab ini terdiri dari 17 jilid dengan jilid terakhir sebagai kumpululan daftar isinya. Secara umum kitab ini telah medapat sambutan baik dikalangan luas. Hal ini telah dibuktikan dengan telah diterjemahkanya kitab ini diberbagai daerah, seperti di Turki, Malaysia, dan lain sebagainya.[3]

Dalam muqodimah-nya, syekh Wahbah menjelaskan bahwa latar belakang atau tujuan utama penulisan kitab ini ialah untuk menyambungkan atau mengikat umat Islam dalam menjalani kehidupanya dengan nilai-nilai al-Qur’an, dengan ikatan yang ilmiah dan berbobot. Hal ini tak lain karena al-Qur’an merupakan pedoman universal bagi kehidupan manusia, khususnya bagi umat Islam.

Dilihat dari latar belakang tersebut, bisa jadi hal itu merupakan keprihatinan syekh Wahbah atas kondisi umat Islam akhir-akhir ini, yang jauh dari nilai-nilai al-Qur’an. Demikian itu membuat umat Islam disebagian wilayah kondisinya terpuruk dan memprihatinkan. Tujuan Wahbah di atas didasarkan pada firman Allah Swt, yakni surat al-Anfal, ayat 24,

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذا دَعاكُمْ لِما يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman penuhilah seruan Allah dan rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan keahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada Nyalah kamu akan dikumpulkan.

Menurutnya, dari ayat tersebut diketahui bahwa Allah Swt dan rasul-Nya mengajak setiap manusia kepada kehidupan yang baik, mulia dan terarah dengan berbagai bentuknya. Itulah Islam yang mengajak seseorang menuju keyakinan dan berfikir yang benar dan lurus, yang mana itu dapat menghidupkan hati dan akal. Menjauhkan dari kebodohan. Menghindarkan seseorang dari penyembahan kepada selain Allah Swt. Dan membebaskan seseorang dari tunduk kepada syahwat dan nafsu, dan dari kedhaliman unsur-unsur jasmani yang akan membunuh jiwa manusia. Itulah al-Quran, kitab suci yang mengajak kepada keadilan, kasih sayang dan kebenaran universal. Dengan cara itulah terjalin hubungan yang erat antara manusia dan Tuhannya.[4]

Sebagaimana diketahui, Wahbah merupakan ulama’ kontemporer yang ahli dalam bidang fiqh. Karya-karya nya sangat banyak dan popular. Diantaranya ada Fiqh al Islam wa Adillatuhu, Ushul Fiqh alIslamy, al-Wasoya wa al-Waqf dan lain sebagainya. Bahkan kitab tafsir ini ditulis setelah penulisan kedua kitab tersebut selesai. Betapapun demikian, dalam penjelasan tafsirnya, ia menegaskan tidak akan membatasi diri hanya pada persoalan perbedaan hukum seputar fiqih, akan tetapi ia juga menjelaskan hukum-hukum lain yang bisa diambil dari ayat-ayat al-Qur’an dengan mendalami maknanya secara luas. Sebab kandungan al-Quran mencakup banyak aspek. Diantaranya ada aspek aqidah, akhlak, tata pergaulan, pedoman-pedoman hidup, dan juga keutamaan-keutamaan ayat-ayat al-Qur’an lain yang dapat dipetik sebagai penjelasan, penegasan, dan isyarat-isyarat bagi pembangunan kehidupan sosial masyarakat yang lebih baik dan juga bagi kehidupan individu setiap manusia dalam segala bidang.[5]

Metodologi

Ada dua corak yang dipakai syekh Wahbah dalam tafsirnya, yaitu corak bi al-ma’tsur (riwayat) dan corak bi arra’yi (rasional). Artinya ia mengkalaborasikan antara corak bi al ma’tsur dari sunnah-sunnah nabi dan pendapat para ulama’ terdahulu, dengan corak rasional yang menyesuaikan dengan pokok-pokok yang diakui. Hal itu sesuai dengan firman Allah Swt:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: Dan kami telah turunkan Az Zikra (Al-Qur’an) kepadamu agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan. (An Nahl: 44)

Oleh karena itu ia menekankan pada tiga hal berikut ini:

  1. Penjelasan dari hadist nabi yang disertai dengan analisa yang mendalam terkait dengan ayat-ayat al-Quran. Seperti susunan i’rob-nya, dan asbabu nuzul.
  2. Pendekatan bahasa Arab.
  3. Perbedaan-perbedaan pendapat dalam penafsiran hukum yang dibawa kepada maqasid asy-syari’ah.[6]

Jelaslah bahwa di sini Wahbah membandingkan pendapat para ulama’ terhadap sebuah ayat yang ditafsirkan. Meskipun begitu ia tak lupa meyeleksi pendapat tersebut dan akan menyebutkan pendapat yang lebih utama yang sesuai dengan pendekatan lafadz bahasa Arab dan konteks ayat yang sedang ditafsirkan.[7]

Kedua corak penafsiran di atas diterapkan kedalam metode tafsir tahlili (analitik). Meskipun pada beberapa kesempatan ia menggunakan metode tafsir maudhu’i (tematik). Misalnya ketika membahas soal jihad, hudud, waris, riba, dan masalah khamr. Wahbah juga berusaha menjelaskan hubungan kisah-kisah  yang terdapat dalam al-Quran. Pengulangan kisah-kisah dengan berbagai redaksi yang berbeda ia analisa dengan cara yang berbeda sesuai dengan uslubnya masing-masing.Ia juga berusaha sebisa mungkin menghindar dari riwayat kisah-kisah yang tak masuk akal, termasuk diantaranya cerita-cerita isarailiyyat. Tak hanya sampai di situ ia juga menguatkan penafsiranya dengan hadist-hadist sahih.[8]

Di dalam pengantarnya ia menegaskan tidak akan terpengaruh dengan orientasi atau kecenderungan tertentu yang mengantarkan kepada fanatisme madzhab. Oleh karenanya ia berusaha menghindari politisasi ayat yang digunakan untuk menguatkan pandangan suatu kelompok atau madzhab atau bahkan pandangan ilmiah yang popular pada zaman dahulu atau dewasa ini. Demikian karena al-Quran lebih dari itu semua. Al-Quran bukanlah rangkuman ilmu-ilmu alam, seperti ilmu falak, ilmu kedokteran, ilmu perhitungan atau sebagainya. Namun al-Quran merupakan petunjuk Tuhan/hidayah Ilahiyah yang di dalamnya tercakup semua isyarat-isyarat keilmuan yang ada.

Sistematika

Dalam muqodimah-nya ia juga menyebutkan langkah-langkah sistematika pembahasan tafsirnya sebagaimana berikut:

  1. Mengklasifikasi ayat-ayat al-Qur’an dalam satu judul dan memberikan judul yang cocok.
  2. Menjelaskan kandungan yang tercakup didalam setiap surat secara global.
  3. Menjelaskan sisi kebahasaan.
  4. Menyebutkan asbabun nuzul yang sumbernya sahih.
  5. Penafsiran ayat dan penjelasanya.
  6. Menyebutkan hukum-hukum yang dapat diambil dari ayat yang telah ditafsirkan.
  7. Menjelaskan kesusastraan dan i’rab ayat-ayat yang hendak ditafsirkan.[9]

Sistematika di atas merujuk sebagaimana yang ada dalam pengantar tafsir tersebut. Kalau kita cermati lagi, selain tidak urut, ada satu hal yang belum dicantumkan dalam pengantar tersebut, yakni qira’at dan munasabah ayat. Sedangkan dalam setiap penafsiranya Wahbah selalu menjelaskan perbedaan bacaan (qira’at) dan hubungan ayat, dengan ayat sebelumnya.

Sehingga sistematika metodologi penafsiran Wahbah ketika diurutkan adalah, pertama ia memberikan judul yang cocok pada ayat yang hendak ditafisrkan, kedua menjelaskan perbedaan bacaan atau qiro’ah yang ada pada ayat tersebut. Ketiga mengupas dari sisi i’rob ayat yang ditafsirkan. Keempat menjelaskan dari sisi balaghah atau kesusastraan. Kelima menjelaskan sisi kebahasaan atau mufodat al lughowiyyat. Keenam menyebutkan munasabah dengan ayat sebelumnya. Ketujuh menjelaskan penafsiran ayat dan penjelasanya. Kedelapan menjelaskan fiqh al-hayat aw al-ahkam, yakni penjelasan dari sisi fiqh dan hukum-hukum yang dapat diambil dari ayat yang sedang ditafsirkan.

Disebutkan dalam penafsiranya, ketika menafsirkan surat al-Fatihah ayat 6, bahwasanya manusia diberikan hidayah oleh Tuhan, yang mana hidayah tersebut akan mengantarkan kepada kebahagiaan hidup manusia. Hidayah tersebut ada lima macam:

  1. Hidayah berupa ilham al fitri: hidayah ini diberikan Tuhan kepada setiap manusia sejak kecil, semenjak dilahirkan. Yaitu merasa butuh makan dan minum. Ini bisa dibuktikan ketika dua kebutuhan itu tak dipenuhi, maka ia akan menangis atau berteriak.
  2. Hidayah panca indera: hidayah ini merupakan pelengkap dari yang pertama. Kedua hidayah ini terdapat pada manusia dan hewan, namun pada tahap awal ini hewan lebih cepat sempurna dari pada manusia. Setelah kelahiranya, insting hewan lebih cepat sempurna, sementara manusia butuh beberapa tahap.
  3. Hidayah akal: hidayah ini posisinya lebih tinggi dari pada dua hidayah sebelumnya. Manusia merupakan makhluk social yang saling membutuhkan. Oleh karena itu tak cukup hanya dengan panca indera saja untuk menjalani kehidupan bermasyarakat. Dibutuhkan akal untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup yang ada dimasyarakat. Akal juga berperan mencegah penyimpangan-penyimpangan, memperbaiki kesalahan-kesalahan panca indera.
  4. Hidayah agama: hidayah inilah yang tidak akan salah, sumbernya pun tidak akan menyimpang dan sesat. Berbeda dengan akal dan hawa nafsu. Akal bisa jadi menyimpang, nafsu juga dapat hanyut kepada kenikmatan-kenikmatan dan syahwat, sehingga menyesatkan manusia. Oleh karena itu manusia butuh petunjuk yang tak terpengaruh oleh hawa nafsu. Maka agama hadir untuk membantu manusia kepada jalan yang lurus, entah itu kehadiranya setelah manusia berbuat kesalahan atau sebelumnya. Maka hidayah ini merupakan penjaga yang terpercaya dan senjata untuk mencegah keburukan. Hidayah inilah yang paling dibutuhkan manusia untuk mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi.
  5. Hidayah ma’unah dan taufiq: hidayah ini lebih khusus dari hidayah agama. Hidayah ini merupakan permintaan kita yang terkandung pada surat al Fatihah ayat 6. Hidayah ini merupakan wilayah Allah Swt. Sebgaimana dalam firman-Nya: إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ، وَلكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشاءُ Artinya: Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki. (al-Qashash; 56).

Kesimpulanya hidayah dalam al-Quran ada dua macam, hidayah umum dan hidayah khusus. Hidayah umum mencakup empat hidayah diatas. Sedangkan yang terakhir merupakan hidayah khusus.[10]

*Penulis: Ahmad Riza Burhani


[1]. Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an. (Yogyakarta: Penerbit Pustaka Insan Madani, tanpa tahun), hlm. 174

[2]. Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, hlm. 174-175.

[3]. Dr. Wahbah az-Zuhailiy, at-Tafsir al-Munir, (Damaskus: Dar al-Fikr, 2007),  mukaddimah

[4]. Dr. Wahbah az-Zuhailiy, at-Tafsir al-Munir, hlm. 9-10

[5]. Dr. Wahbah az-Zuhailiy, at-Tafsir al-Munir, hlm. 11

[6]. Dr. Wahbah az-Zuhailiy, at-Tafsir al-Munir, hlm. 6

[7]. Dr. Wahbah az-Zuhailiy, at-Tafsir al-Munir, hlm. 11

[8]. Dr. Wahbah az-Zuhailiy, at-Tafsir al-Munir, hlm. 12

[9]. Dr. Wahbah az-Zuhailiy, at-Tafsir al-Munir, hlm. 12

[10] . Dr. Wahbah az-Zuhailiy, at-Tafsir al-Munir, hlm. 59-60

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s