Fenomena Ekonomi Islam

Dalam satu dekade terakhir, sering kita melihat di jalan-jalan terdapat gedung atau lembaga yang kebanyakan lembaga tersebut berlabel “syariah”. Dimulai dengan bank syariah, lalu muncul syariah-syariah yang lain seperti hotel syariah, warung syariah, hingga bengkel syariah. Hal ini wajar mengingat pesatnya perkembangan bank syariah di mata ekonomi dunia. Dimana sebagai salah satu contoh, Bank Muamalat yang satu-satunya lolos dari dampak ‟krismon” (krisis moneter) yang terjadi pada tahun 1998.
Lalu apa itu bank syariah? Bank syariah adalah bank yang menganut sistem ekonomi islam dan tentu berbeda dengan bank konvensional. Jadi jika kita ingin mengetahui atau bahkan menerapkan sesuatu secara syariah, haruslah kita memahami islam secara sempura (kaffah).
Jadi menurut pemahaman di atas, maka definisinya sebagai berikut : Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum dalam rukun iman dan rukun Islam. Jadi ekonomi islam bukanlah ilmu ekonomi yang “dibumbui” dengan islam, tetapi ekonomi islam adalah ilmu ekonomi yang diambil berdasarkan agama islam dan tentunya bersumber dari al-Qur‟an dan as-Sunnah.
Sistem yang gagal
Sebelum ekonomi islam mendunia, terdapat sistem-sistem yang lebih dulu dikenal. Kapitalisme, sosialisme hingga welfare state (negara sejahtera) adalah macam-macam sistem ekonomi yang masih dianut hingga sekarang.
Namun sistem-sistem ekonomi tersebut dinilai kurang relevan menilik kembali krisis akhir-akhir ini yang belum bisa ditangani oleh sistem-sistem tersebut. Bahkan Umer Chapra menyebut sistem-sistem tersebut sebagai sistem yang gagal.
Dalam perkembangannya, kapitalisme yang terkenal dengan “invisible hand”nya dan dipelopori oleh Adam Smith lebih mementingkan kepentingan pribadi yang dampaknya buruk bagi kesehatan sosial masyarakat karena kekayaan hanya berputar di kalangan orang kaya. Sosialisme yang digaungkan Karl Max susah diterima karena munculnya dianggap sebagai ketidakpuasan “ekstrem” atas kapitalisme dan strategi yang salah arah. Dan terakhir, negara sejahtera yang muncul setelah “Great Depression” (depresi besar) dan perang dunia kedua dianggap suatu kemajuan yang (setidaknya) menggembirakan namun tetap belum mampu mengatasi krisis yang terjadi di kemudian hari.
Jawaban Islam
Lalu apakah Islam juga membahas hal ini? Jawabannya tentu. Karena Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin yang pastinya juga membahas tata cara hidup di dunia. Sebenarnya dalam al-Quran secara eksplisit sudah dibahas mengenai masalah ekonomi. Al-Qur‟an yang turun 14 abad lalu telah memerintahkan untuk bekerja agar tidak menganggur yang dalam ilmu ekonomi disebut full employment. Bekerja merupakan suatu kewajiban karena Allah SWT memerintahkan-nya, sebagaimana firman-Nya dalam surat At-Taubah ayat 105:
“Dan katakanlah, bekerjalah kamu, karena Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan itu.”
Karena kerja membawa pada keampunan, sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW: “Barangsiapa di waktu sorenya kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapat ampunan.” (HR.Thabrani dan Baihaqi)
Yang tak kalah pentingnya yaitu zakat. Faktanya zakat mampu mengurangi beban hidup (live cost) dan agar harta tidak beputar di kalangan orang kaya saja sebagaimana dalam QS Al-Hasyr ayat 7. Badan Amil Zakat (BAZ) mengatakan bahwa jika zakat dikelola secara sistematis maka akan mendongkrak ekonomi suatu negara dan mampu mengurangi angka pengangguran.
Islam telah memasukkan dalam struktur keyakinannya suatu peraturan untuk kemandirian sosial, dimana setiap orang memberikan sumbangan sesuai dengan kemampuannya, untuk memenuhi visinya mengenai suatu persaudaraan yang dilandasi dengan sikap khilafah.
Inti dari syariah adalah untuk kesejahtera-an seluruh masyarakat. Ini yang menjadi tantangan para ekonom islam dalam menghadapi zaman yang semakin melegalkan riba
Islam telah merumuskan suatu sistem ekonomi yang berbeda sama sekali dengan sisitem-sistem yang sudah berlaku. Ia memiliki akar syariah yang menjadi sumber pandangan dunia sekaligus tujuan-tujuan dan strateginya. Berbeda dengan sistem sekular yang menguasai dunia dewasa ini, tujuan-tujuan islam adalah bukan semata-mata bersifat materi, melainkan didasarkan pada konsep mengenai kesejahteraan (falah) dan kehidupan yang baik (hayat thoyyibah), yang memberikan nilai yang sangat penting bagi persaudaraan dan keadilan sosio-ekonomi dan menuntut suatu kepuasan yang seimbang, baik dalam kebutuhan-kebutuhan materi maupun rohani dari seluruh umat manusia.
*Oleh Ahmad Yahya, (Mahasiswa STKQ Al-Hikam)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s