Kombinasi Aqidah, Syari’ah, dan Akhlaq

Islam merupakan agama yang komplit. Di dalamnya diatur segala aspek kehidupan manusia. Sehingga manusia memiliki visi hidup yang benar, yang mendasari sikap, perbuatan, dan interaksi  menjadi benar pula.
Aspek pertama yang harus diperhatikan adalah aspek Akidah yaitu keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah ciptaan Allah SWT, tak terkecuali diri kita. Rasanya mustahil jika alam dan tubuh kita ini yang luar biasa kompleknya namun sistemnya teratur, tercipta tanpa ada penciptanya. Pencipta itu adalah Allah Swt. Allah disebut Khalik atau Pencipta, sedangkan ciptaannya disebut Makhluk atau yang diciptakan.
Supaya akidah semakin berbobot dan terhindar dari taklid buta, bagi mukallaf atau orang yang sudah baligh dan berakal sehat diharuskan mengetahui sifat-sifat Allah SWT yang meliputi sifat wajib Allah, sifat muhal Allah, dan sifat jaiz Allah, yang disertai dengan argumen Naqli yaitu Al-Quran dan Hadist, dan juga argumen Rasionalnya (Aqli).
Selanjutnya ada aspek syari’ah yakni peraturan-peraturan yang ditetapkan Allah SWT bagi manusia. Di sini tugas manusia adalah beribadah kepada-Nya, yakni melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Seperti shalat, zakat, puasa, tidak minum miras, dan lain sebagainya.
Dari kedua aspek di atas, yakni Akidah dan Syariat, dapat dikatakan bahwa iman merupakan pondasi dasar dari syari’at. Sebagaimana disebutkan dalam muqaddimah Ibnu Rusyd bahwasanya pemahaman dan nalar yang baik akan Akidah diperlukan sehingga kebesaran Allah SWT merasuk ke dalam jiwa yang dengan hal demikian dapat mendorong seseorang untuk mengetahui aturan-aturan Allah SWT, tentang perkara-perkara yang harus dikerjakan, dan perkara yang harus ditinggalkan. Sehingga pelaksanaan syari’ah nantinya benar-benar tertuju kepada Allah SWT.
Pemahaman syariat yang bagus menjadikan segala aktivitas duniawi bernilai ukhrawi alias berniali ibadah. Demikian ini karena ibadah ada dua macam, yang pertama ibadah Mahdhah yaitu suatu interaksi murni antara hamba dan penciptanya, Allah SWT. Yang kedua ada ibadah Ghairu Mahdhah yaitu interaksi sosial antar sesama hamba atau yang biasa dikenal dengan istilah Mu’amalah. Letak perbedaan diantara keduanya adalah pada kaifiyahnya atau tata caranya. Untuk ibadah Mahdhah tata caranya ditentukan langsung oleh Allah melalui Rasulullah SAW. Adapun ibadah Ghairu Mahdhah disini Allah memberikan prinsip-prinsip umum saja, sedangkan tata caranya dibuat oleh manusia sendiri. Artinya petunjuk umumnya terdapat dalam Al-Quran dan Sunah Rasul tanpa disertai rincian teknisnya. Misalnya hukum dan keadilan, persoalan rumah tangga, sewa menyewa hingga soal bentuk sistem suatu Negara dan lain sebagainya.
Aspek terakhir yang tak kalah pentingnya adalah aspek Akhlak. Akhlak merupakan ajaran-ajaran yang menyangkut nilai-nilai dan moralitas baik dalam ranah interaksi antara hamba dengan penciptanya maupun antar sesama hamba.
Akhlak tidak bisa dipisahkan dengan Akidah dan Syariat. Karena keimanan kepada Allah disertai kepatuhan akan perintah-perintah-Nya pelan-pelan akan memberikan stimulasi terkuat yang mendorong seseorang untuk menjauhi perbuatan-perbuatan buruk dan destruktif, di samping juga sebagai motivator terbesar untuk selalu berbuat kebaikan. Sehingga seorang mukmin sejati senantiasa menghindari hal-hal yang nista, sebab ia menyakini bahwa Allah mengontrol gerak-geriknya dalam segala situasi dan kondisi.
Jika kita cermati, aspek-aspek di atas merepresentasikan Hablun Min Allah (interaksi manusia dengan Tuhannya), yaitu Allah SWT dan Hablun Min an-Nas      (interaksi sosial hamba dengan lingkungan sekitarnya). Kedua hubungan ini harus seimbang, tanpa ada prioritas kepada salah satu aspek saja. Perhatian tinggi kepada satu aspek dengan mengabaikan aspek lainya akan menimbulkan kehinaan dan kesengsaraan.
Akidah, Syariah, dan Akhlak itulah ketiga pondasi yang saling berkaitan erat, sehingga bangunan yang diatasnya tidak goyah meskipun badai menerpanya. Meninggalkan atau mengabaikan salah satu dari tiga tersebut bisa jadi akan menyebabkan runtuhnya bangunan tersebut. Sehingga pemenuhan dari ketiga komponen diatas akan melahirkan sosok-sosok muslim yang ideal, religius, sosialis, peka terhadap lingkungan dan sekitarnya dengan menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas.
*Oleh Ahmad Burhanuddin (Mahasantri STKQ  Al-Hikam)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s