Menggapai Qalbun Salim

Pada hari akhirat nanti, waktu kita menghadap Allah SWT, kita harus menyetorkan seluruh amal kita. Semua itu sudah terdeteksi dengan rapi dan baik, karena sudah ada memory dan file-nya masing-masing sehingga tidak akan keliru. Amal saya tidak akan keliru atau ketukar dengan amal sampeyan. Karena semenjak di dunia, kita sudah diberi identitas. Identitas yang biasa dipakai adalah sidik jari, dan ternyata tidak ada sidik jari manusia yang sama; Berkembang lagi pengetahuan, ternyata rambut orang juga tidak ada yang sama; darah manusia juga tidak ada yang sama. Golongannya mungkin sama, tetapi DNA-nya tidak sama.
Semua tindakan kita secara lahir dan bathin “dengan sendirinya” tercatat. Kalau dalam bahasa agama adalah dicatat Malaikat Raqib dan ‘Atid. Dulu saya membayangkan betapa besarnya buku amalan kita nanti. Umpama semua kelakuan kita sejak kecil ditulis, tentu bukunya bisa setara dengan satu masjid. Itu adalah bayangan kita ketika masih goblok. Sekarang ini di HP atau komputer, onderdil yang begitu kecil bisa menyimpan data yang begitu besar. Allah SWT berfirman bahwa besok kalau kita sudah masuk di alam akhirat, dari tengkuk kita ini akan keluar buku. Itulah buku catatan amal kita.
Allah SWT berfirman dalam Surat Asy-Syu’araa’ : 88-89 يَوْمُ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَ ﴿٨٨﴾ اِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ (yaitu) pada hari (di mana) harta dan anak-anak tidak lagi berguna, Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,
Pada saat itu harta sudah tidak berguna, anak juga sudah tidak berguna. Karena harta itu hanya berguna di dunia saja, dan harta itu akan dibawa ke akhirat kalau harta itu diproses menjadi amal, maka katut (ikut) menjadi catatan amal. Tapi selama harta masih berupa harta, maka harta itu tidak akan ikut kita. Anak-anak kita juga sudah tidak bisa mendo’akan kita lagi. Anak itu berguna maksimal sampai kita di alam kubur saja, kalau mereka memang mendo’akan kita dan mereka shalih hatinya, bukan shalih namanya. Adapun yang bisa diterima oleh Allah SWT adalah Qalbin Saliim (Hati yang selamet). Selamat dari syirik, kufur, dan selamat dari penentangan kepada Allah SWT, atau masalah-masalah yang menyangkut aqidah lainnya. Kalau menyangkut perkara amaliyah, maka ada hisabnya. Kalau menyangkut aqidah, maka sudah pasti ditolak, sebab hatinya bukan termasuk Qalbun Saliim.
Jadi ada dua hal yang perlu diperhatikan, bahwasanya di akhirat nanti ada posisi keimanan–keyakinan dan posisi amal baik-buruk. Oleh karenanya, orang-orang kafir tidak akan diterima amalnya. Orang Islam yang berdosa, dihitung dulu dosanya. Ada perbedaan antara keyakinan dan amal. Oleh karenanya, aqidah itu harus dijaga betul-betul agar tidak ditolak oleh Allah SWT. Jadi, yang dimaksud dengan Qalbun Salim adalah:
Selamat dari semua keyakinan yang salah Sehingga di dalam Hadits Rasulullah SAW disebutkan:
Barang siapa akhir kalamnya adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, maka dia (pasti) masuk surga
Orang yang pada akhir hayatnya atau akhir ucapannya adalah kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, maka dia akan masuk surga. Masuk surga ini tidak bleng, karena ada hak masuk surga. Itulah makna Hadits di atas. “Karcis-nya” itu harus ngantri di loket amalnya. Tapi kalau Qalbun-nya tidak Saliim, maka tidak ada loket lagi baginya. Oleh karenanya, hati-hatilah dan jagalah aqidah. Orang yang tidak shalat itu berdosa, tapi orang yang berani mengatakan shalat itu tidak perlu adalah kafir. Orang yang tidak kawin itu rugi, setelah kawin baru merasa rugi, kenapa kok tidak dulu-dulu. Tapi orang yang menentang lembaga perkawian bahwa hidup tidak usah kawin, dia adalah kafir. Jadi, penentangan terhadap ajaran pokok Islam itu kafur, kalau belum bisa melakukan ajaran pokok itu berarti dia berdosa. Saya ingatkan masalah ini, karena anak-anak muda sekarang ini sudah ndak karu-karuan. Karena ingin modern seperti Amerika, mereka berani bilang shalat tidak perlu. Kalau dia aras-arasen shalat, dia berdosa. Tapi kalau dia bilang shalat tidak perlu, berarti dia telah menghapuskan syari’at shalat, sehingga dia tergolong kafir.
Kyai-kyai di Kediri ngeluh kepada. Mereka berkata: “Anak-anak saya yang sudah lulus di pesantren salaf, saya masukkan di Ma’had Aly Kediri, lalu melok organisasi – PMII, HMI, dsb. – mereka mulai ndak shalat, alasannya sebagai sikap moderat. Belakangan mulai ada yang mengatakan bahwa shalat itu tidak perlu, shalat hanyalah alternatif”.
Sekarang ada “ilmu dajjal” baru yang disebut Hermeneutika. Agama dijujuk esensi dan tujuannya, tidak pada proses, bentuk, dan lakunya. Misalnya: Shalat dilakukan supaya hati menjadi tenang, sedangkan kalau sudah tenang tidak perlu shalat. Itu termasuk Hermeneutika. Zakat disyari’atkan karena orang tidak cukup makan, ketika rakyat sudah cukup makan, maka syari’at zakat tidak lagi diperlukan. Inilah yang saya katakan; “Orang yang menjalankan ibadah tidak boleh mengambil hikmahnya saja, karena belum tentu dia menduga hikmahnya itu benar dan belum tentu hikmahnya cuma yang diomongkan itu saja. Shalat untuk ketenangan, tapi apakah shalat hanya untuk ketenangan hati saja? Tentu tidak. Semua contoh tadi termasuk cakupan ilmu hermeneutika yang ujung-ujungnya adalah menuruti selera syahwat dan nafsu. Jadi, mereka mengukur sesuatu berdasarkan selera.
Yang perlu kita jaga adalah Qalbun Salim. Dari Qalbun Salim inilah kita harapkan muncul amal shalih, lalu amal shalih itulah yang kita bawa ke hadapan Allah SWT. Perlunya untuk apa? Perlunya adalah semua yang engkau punyai, proseslah menjadi amal, akhirnya bisa menjadi modal menghadap Allah SWT. Pinter itu belum menjadi modal, pinter akan menjadi modal kalau sudah dijadikan amal, misalnya; kepinteran itu digunakan untuk belajar maupun mengajar. Belajar dan mengaja itu amal, tapi volume ilmu itu belum menjadi amal. Contoh lain: Mencari harta untuk makan itu adalah amal, tapi kalau kita terima masih berupa barang, berarti belum menjadi amal, kecuali kalau sudah ditasharufkan. Ada seorang sufi yang berkata: “Kalau kamu ingin membawa seluruh harta, maka lepaskanlah harta itu. Kalau kamu ingin meninggalkan harta itu, maka peganglah terus-menerus”. Karena kalau kamu pegang terus-menerus akan menjadi harta waris, karena ndak mungkin dibawa ke kuburan. Tapi kalau harta itu ditasharufkan, maka harta itu akan mengikuti kamu.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujuurat : 1
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Kamu jangan membawa harta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, karena harta itu bikinan Allah SWT, maka Dia tidak memerlukan harta, demikian juga dengan Rasul-Nya. Maka dari itu, jangan nyetor harta kepada-Nya, karena yang demikian itu adalah pekerjaan orang musyrik. Contoh: Beberapa hari yang lalu, Gunung Bromo dikabarkan akan meletus, lalu masyarakat berbondong-bondong membawa kambing, ayam, bebek, dsb. untuk dimasukkan di situ. Saya tanya, kenapa dicemplungno? Mereka menjawab: “Kita kirim kepada tuhan”. Untuk apa tuhan kok makan bebek?. Tuhan itu yang membuat bebek, maka Dia tidak memerlukan bebek. Tuhan tidak memerlukan binatang qurban. Yang sampai kepada Allah SWT bukan daging qurban, melainkan manut (taat) untuk disuruh berqurban. Jadi yang dikirim adalah ketaatan.
Demikian juga dengan orang yang mencari ilmu, ada yang pinter, bodoh, atau terlalu bodoh. Tapi sekolahnya orang pinter maupun orang bodoh itu ganjarane podo, senajan pintere ora podo. Karena yang dihitung bukan kadar ilmu yang diperolah, melainkan ketaatannya untuk mencari ilmu. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujuraat : 1
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Perhatikan!, di sini ada aqidah, ada amal, dan ada niat. Adapun niat di sini adalah dengan jiwa Basmalah. Kalau Basmalah itu sampai di hati, maka akan terasa. Oleh karena itu, orang wiridan atau dzikir itu tergantung pada qalbun-nya, apakah salim atau tidak. Jika saya dan kamu membaca kalimat لا إله إلا الله, hasilnya tidak sama dengan orang yang membaca kalimat itu dengan hati yang bersih. Orang yang dzikir dengan hati yang bersih itu ibarat cangkir yang melumah, sehingga kalau dituangi air, air itu akan masuk; sedangkan kalau cangkirnya miring, maka air yang masuk hanya sedikit, dan kalau cangkir itu mengkurep, maka meski digerojok dengan lumpur sidoarjo pun, tetap ndak ada yang masuk. Maka dari itu, usahakan berdzikir dengan qalbuun salim (hati yang selamat).
Menurut Imam Ghozali RA, salah satu dari kekuasaan Allah SWT adalah keajaiban hati. Coba kamu pikir!, hati itu mempunyai tiga bagian: bagian kiri, kanan dan tengah. Rasa senang dan rasa sedih ada di situ, namun umpama dicari oleh dokter, niscaya tidak akan ketemu. Perhatikan hubungan alam dzahir dengan alam ghaib dalam hati yang sungguh luar biasa itu. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Mukminuun : 14
Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
Karena di dalam hati itu ada penyakitnya, maka Allah SWT menurunkan obatnya sebagaimana dalam Surat Yunus : 57
Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Jadi, Allah SWT itu telah membuat segalanya. Allah SWT membuat hati, penyakit hati dan obatnya sekaligus.
Mau’idzah, Hudan dan Rahmat tadi ditujukan untuk orang-orang yang beriman. Kalau ndak beriman, maka tidak akan bisa memperolehnya. Bagaimana mungkin seseorang mau ada penyembuhan di dalam hati, padahal dia tidak beriman kepada Dzat yang mempunyai hati?

Lihat: http://pers-alhikam.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s