Pilar-Pilar Aswaja

Sekarang ini, aliran-aliran dan gerakan-gerakan politik sudah ada di sekitar kita. Kita tidak usah ikut-ikut ke sana, tetap saja pada ASWAJA. Ini penting, soale wis usum, mereka semua sudah masuk ke kampung, kampus, masjid, dsb. Wis ojok melok-melok, tetep pada ASWAJA yang patokannya sudah jelas. Patokan ASWAJA dalam bidang tauhid adalah Imam Al-Asy’ari dan Imam Al-Maturidy. Patokan dalam bidang Ilmu Fiqih adalah salah satu dari madzhab empat, yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali RA. Madzhab Imam Syafi’i iku sing paling luwes, sebab piyambake rono-rene. Beliau pernah tinggal di Mekkah, Madinah, Baghdad, Mesir, dsb. sehingga beliau iso membanding-bandingkan.
Imam Malik itu hanya tinggal di Madinah saja, mulane beliau menjadi Ahli Hadits terkemuka, karena Hadits numpuk di Madinah. Nabi Muhammad SAW hidup lama di Madinah, sehingga kelumpukan Hadits ada di Madinah juga sangat banyak. Hadits itulah yang menjadi ilmu andalan dari Imam Malik. Mulane, seakan-akan Imam Malik iku nggak duwe pendapat, karena nyaris semua pendapatnya mengacu kepada Hadits. Saking akehe Hadits sing diapalno Imam Malik, ngantek luweh teko 100.000 Hadits. Bandingno karo awak-awak’an iki, utange tok lali, opo maneh apal Hadits. Imam Malik iku sugih tapi sufi. Anehe, sufi itu orang yang atine gak kedunyan, padahal Imam Malik diparingi sugih. Opo dungane Imam Malik supoyo sugih lan sufi?, do’anya adalah:  “Ya Allah, letakkanlah dunia di tangan saya, jangan letakkan dunia itu di hati saya”
Do’a ini bermakna: Kalau dunia hanya ditelakkan di tangan saya, maka dunia itu akan saya gunakan, bukan saya yang dipergunakan dunia. Akan tetapi kalau dunia itu diletakkan di hati, maka hati kita yang digerakkan oleh dunia. Jadi, pertanyaannya, siapa juragannya, kita ataukah dunia?. Jadi, pertanyaannya, siapa juragannya, kita ataukah dunia?. Karena Imam Malik iku sugih, alim, dan sufi, maka kabeh santrine dibandani, baik mangan, biaya sekolah, kebutuhan kitab, dsb. Bahkan Imam Syafi’i RA ketika mau budal neng Baghadad, disangoni oleh Imam Malik. Sedangan Imam Madzhab sing melarat adalah Imam Syafi’i RA. Ketika berusia 2 tahun, beliau sudah ditinggal ibunya. Ada cerita, pada waktu kulo wonten Qatar, kepanggeh Imam besar saat ini yang namanya Syaikh Yusuf Qardhawi. Beliau bertanya: “Orang Indonesia pakai madzhab apa?”. Saya menjawab: “Mayoritas madzhab Imam Syafi’i RA”. Lalu beliau berkomentar: “Syafi’iyyun Fuqaraa'”. Imam Hanafi RA juga tergolong kaya. Jadi, orang sufi itu nggak mesti melarat. Senajan melarat, tapi kalau nggeragas, yo gak onok sufine. Yang dimaksud dengan sufi adalah orang yang hidup berdasarkan kebutuhan, bukan berdasarkan kemauan. Jadi, kalau sudah luwe, baru perlu sego; nek ngelak, lagek perlu ngombe, dst.
Ada maqalah kaum sufi: “Untuk apa kamu membangun sesuatu yang tidak engkau tempati, dan untuk apa kamu mengumpulkan apa yang tidak kamu makan.” Ibaratnya, turumu mek sak dipan, ono apo kowe nggawe kamar ngantek 40, opo kate ngolah-ngaleh turu?
Di bidang tarekat atau tasawuf, ASWAJA mengikuti Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghozali. Dalam ASWAJA ada tiga istilah, fiqhul ahkaam, fiqhud da’wah dan fiqhus siyasah. Fiqhus Siyasah di dalam ASWAJA itu luwes. Yang penting, kalau bisa syari’at dijadikan undang-undang Negara. Kalau tidak bisa, maka makna syari’at itulah yang dijadikan undang-undang. Kalau masih tidak bisa, maka pokoknya Islam tidak ditabrak oleh undang-undang. Jadi, bagaimana caranya agar syari’at Islam tetap berjalan, akan tetapi Indonesia-nya masih tetap bersatu. Ini adalah hikmatul ‘ulama’ dan hikmatul auliya’. (Yy)

Lihat: http://pers-alhikam.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s